| 463 Views

Ketahanan Pangan dalam Sistem Kapitalisme Hanya Ilusi

Oleh : Sumiyati
Guru, Pemerhati Umat

Dunia terus berputar, manusia terus bertumbuh dan berkembang dengan kehidupan. Manusia penuh dengan kebutuhan yang berbeda-beda, dengan profesi yang berbeda pula. Negara tentunya harus memberikan perhatian terbaik bagi masyarakatnya. Khususnya kepada para petani. 

Dalam konferensi pers RAPBN, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan, “Ketahanan pangan menjadi perhatian dari presiden terpilih. Kami mengalokasikan Rp 124,4 triliun.” Di kantor Pusat Direktorat Pajak. (ANTARA, 16/08/2024) 

Hal ini merupakan tanda pedulinya pemerintah terhadap ketahanan pangan dengan mengalokasikan dana yang menurut pemerintah itu adalah sudah cukup besar. Tapi pada kenyataannya, dari nominal yang dialokasikan untuk ketahanan pangan terlihat tidak ada keseriusan pemerintah, adanya perencanaan dalam stategis penguatan sektor pertanian nasional.

Sebagaimana diketahui pemerintah membahas anggaran ketahanan pangan diantaranya untuk meningkatkan produktivitas, menjaga ketesediaan dan keterjangkauan harga pangan, perbaikan rantai distribusi hasil pertanian, dan meningkatkan akses pembiayaan bagi petani. 

Tentunya dalam hal ini pemerintah mendapat kritikan dari pengamat Pertanian Syaiful Bahari, terlihat dari pemerintah belum ada kejelasan apa yang dimaksud dengan ketahanan pangan. Apakah yang dimaksud itu adalah peningkatkan produktivitas atau penguatan cadangan pangan nasional atau pembesaran bantuan pangan. (MEDIA INDONESIA, 16/08/2024) 

Pemerintah belum serius dalam menangani ketahanan pangan dari hulu sampai hilir, dalam hal ini terlihat anggaran ketahanan pangan banyak dialokasikan untuk cadangan pangan nasional dan pembesaran bantuan sosial pangan dibandingan peningkatkan produktivitas. Misalnya dalam menyediakan bibit yang yang berkualitas, pupuk yang memadai, pembuatan bendungan yang belum cukup untuk kebutuhan para petani. Akhirnya hasil tani lokal turun drastis dan tidak mampu bersaing dengan negara lain. Lagi-lagi yang terjadi adalah impor dari luar.

Ketahanan pangan merupakan persoalan penting bagi negara, bahkan menyangkut kedaulatan negara. Nyatanya negara dalam sistem kapitalisme tidak memiliki komitmen yang kuat dalam membentuknya. Hal ini terlihat dari kebijakan dan anggaran yang dialokasikan.

Pemerintah dalam sistem kapitalisme begitu minim dukungan bahkan bantuannya terhadap para petani, karena tidak ada keseriusan pemerintah memperbaiki produktivitas pertanian. Sebagai contoh saja, saat ini banyak para petani yang gagal panen karena kekeringan, kalaupun ada yang panen, hasilnya tidak memuaskan. Para petani mencari aliran air untuk mengairi tanamannya. Tentunya membutuhkan dana lagi untuk mengairinya. 

Pembicaraan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah bukan hanya kali ini saja. Tapi hasilnya belum ada perubahan yang signifikan. Kalapun ada perubahan, hanya perubahan yang bersifat sementara saja. Tidak bisa memutus mata rantai persoalan ketahanan pangan.
 
Ketahanan Pangan dalam Islam

Islam adalah rahmatan lil’alamin (Rahmat bagi seluruh alam). Islam merupakan agama yang mengatur segala persoalan dalam kehidupan. Dengan kembali pada aturan yang datang dari Sang Pencipta. Hanya dengan aturannya rotasi kehidupan ini akan berjalan dengan baik. 

Dalam sistem Islam, setiap persoalan pasti akan ditemukan solusinya. Tentunya dalam persoalan ketahanan pangan. Dalam sistem Islam, pemimpin akan menjalankan roda pemerintahan dengan aturan Islam. Pemimpin bertanggung jawab terhadap yang dipimpin. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat Bukhari dan Muslim, “Imam/khalifah itu laksana gembala dan hanya ialah yang bertanggung jawab terhadap hewan gembalanya.” 

Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar yang sangat penting untuk ketahanan negara dalam kondisi apapun, baik dalam kondisi baik-baik saja (damai), bencana maupun peperangan. pangan bukan hanya masalah ekonomi melainkan masalah politik.

Pemimpin dalam Islam harus memahami dan memiliki politik ketahanan pangan guna mewujudkan ketahan pangan. Dalam masalah ini, pemimpin akan menjalankan sistem ekonomi Islam, sistem inilah yang akan melahirkan kebijakan-kebijakan benar dalam perencanaan, pengorganisasian, pengelolaan dan pengawasan. Dalam segala hal akan diperhatikan dalam mewujudkan ketahanan pangan, negara dalam sistem Islam akan memastikan ketersediaan lahan pertanian, anggaran yang memadai, dan negara mengatur dengan baik dalam distribusi pangan.

Khatimah

Islam mampu mengatur ketahanan pangan bukan hanya yang bersifat sementara, tapi mampu mengatur dari hulur sampai hilir. Maka sudah seharusnya kita kembali pada aturan yang datang dan dibuat oleh Allah SWT. 

Wallahualam bissawab.


Share this article via

136 Shares

0 Comment