| 132 Views

Keluarga Cemara: Mampukah Menjawab Masalah Stunting di Indonesia?

Oleh : Welly Okta Milpia

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang meluncurkan program baru bernama KELUARGA CEMARA guna mempercepat pencegahan dan penurunan angka stunting. Program ini diresmikan langsung oleh Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, di Aula Puskesmas Kedungmundu, Rabu (10/9).

Agustina menegaskan, peluncuran KELUARGA CEMARA menjadi wujud komitmen Pemkot Semarang mencetak generasi unggul yang sehat dan bebas dari stunting. “KELUARGA CEMARA merupakan program kolaborasi dari berbagai macam stakeholder. Ada dari Dinas Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Arsip dan Perpustakaan, Dinas Pendidikan, Disdalduk, hingga DP3A,” ujarnya.

Namun, pertanyaannya: apakah program ini mampu menjawab persoalan stunting secara menyeluruh?

Ironi di Balik Pertumbuhan Ekonomi

Pada 2022, Indonesia dipuji sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara sekaligus peringkat ke-17 dunia. Tetapi, di balik capaian tersebut, tersimpan ironi yang menyakitkan: 1 dari 5 anak di bawah usia dua tahun menderita kekurangan gizi kronis. Angka stunting masih mencapai 21,6% pada tahun itu.

UNICEF bahkan menempatkan Indonesia di posisi lima besar negara berkembang dengan prevalensi stunting tertinggi dari 88 negara. Fakta ini menjadi peringatan keras bahwa pembangunan yang hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi tanpa memerhatikan kualitas manusia, pada akhirnya hanyalah pembangunan yang timpang.

Akar Masalah Stunting

Stunting bukan hanya soal gizi buruk. Ia merupakan masalah multidimensi. Pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pengasuhan yang tidak memadai, layanan kesehatan terbatas, akses pangan bergizi yang minim, serta buruknya sanitasi dan air bersih menjadi faktor penentu.

Karena itu, penanganan stunting tidak cukup dengan program cabang semacam susu gratis atau makan siang massal. Masalah ini menuntut penyelesaian fundamental pada aspek gizi, kesehatan, sanitasi, pendidikan, dan infrastruktur. Meski tidak selalu identik dengan kemiskinan, keluarga miskin jelas lebih rentan karena terbatas dalam pemenuhan gizi, layanan kesehatan, maupun sanitasi yang layak.

Apa yang Seharusnya Dilakukan Negara?

Untuk menuntaskan stunting, negara wajib mengambil peran strategis dengan langkah menyeluruh:

1. Menyediakan layanan kesehatan gratis dan merata, terutama bagi ibu hamil dan balita.
2. Menjamin kebutuhan dasar rakyat—sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan—serta memastikan harga pangan tetap terjangkau.
3. Memberikan edukasi gizi yang efektif, sejalan dengan penyelesaian kemiskinan dan perluasan akses pendidikan.
4. Melakukan pengawasan ketat agar kebijakan benar-benar berpihak pada rakyat, mulai dari layanan kesehatan hingga penggunaan anggaran.

Solusi Islam

Stunting bukanlah persoalan individu semata, melainkan tanggung jawab negara dalam memastikan terpenuhinya hak dasar rakyat. Negara tidak boleh berhenti pada program tambahan gizi atau bantuan sesaat, tetapi harus menjamin secara nyata layanan kesehatan, pangan bergizi, dan pendidikan yang memadai.

Karena stunting merupakan masalah sistemik, penyelesaiannya pun harus sistemik. Solusi menyeluruh hanya mungkin terwujud dengan kepemimpinan yang mengikuti aturan Sang Pencipta, yakni menerapkan syariat islam. Selama paradigma kapitalisme tetap dijadikan dasar—dengan negara hanya berperan sebagai regulator, bukan pelayan—upaya pencegahan stunting hanya akan menjadi tambal sulam, jauh dari penyelesaian yang tuntas.


Share this article via

166 Shares

0 Comment