| 61 Views
Kelaparan di Gaza, Dimanakah Iman Kita?
Oleh: Mentari
Aktivis Dakwah
Hingga saat ini, muslim Gaza sedang terus bertarung nyawa. Ancaman genosida bukan hanya mereka dapatkan dari serbuan bom udara yang datang tanpa jeda. Zionis laknatullah juga menggunakan senjata primitif dan sangat kejam, yakni membiarkan kaum muslim Gaza satu demi satu mati perlahan karena menahan lapar!
Ya, pelaparan warga Gaza nampak menjadi senjata baru genosida. Sejak 2 Maret 2025, Gaza diblokade total. Pintu Rafah dan Kerem Shalom ditutup tanpa celah. Truk-truk bantuan dari dunia internasional pun tertahan di perbatasan. Sebagian bantuan lainnya tertumpuk di gudang-gudang WFP (Program Pangan Dunia) di perbatasan Mesir dan Yordania.
Tidak jauh dari tumpukan bantuan itu, sekira 2 juta lebih warga Gaza yang tersisa justru harus bertahan dengan apa yang ada di sekitar mereka. Persediaan makanan, air bersih, bahan bakar, alat medis dan obat-obatan benar-benar terbatas dan kondisinya terus menipis, bahkan sampai pada kondisi krisis.
Pelaparan Sistematis
Pihak Zionis mengeklaim, blokade itu dilakukan karena khawatir jika bantuan kemanusiaan akan dimanfaatkan oleh Hamas. Lalu Zionis bersama Amerika Serikat mengusulkan sistem distribusi bantuan baru melalui sebuah lembaga bernama Gaza Humanitarian Foundation (GHF). Namun niat jahat mereka tidak mampu ditutup-tutupi. Rencana tersebut hanyalah upaya mereka agar bisa mengontrol distribusi bantuan dalam kerangka tujuan politik dan militer yang lebih besar.
Betapa tidak? Mereka tetapkan empat titik penyaluran bantuan yang memaksa penduduk Gaza berpindah dari utara ke selatan di perbatasan Mesir. Rencana ini sejalan dengan keinginan mereka mempercepat pengosongan Gaza dan mengusir warganya keluar dari sana. Bahkan yang mengerikan, strategi ini ternyata dibuat dalam rangka mempercepat genosida. Inilah yang biasa dinamai sebagai genocide by starvation.
Dengan berbagai alasan, militer zionis menarget warga Gaza yang mencoba mengakses bantuan. Pada Kamis (10/7/2025), ada 66 warga yang tewas, 8 di antaranya anak-anak. Mereka datang ke sebuah klinik di Deir el-Balah untuk mengantre suplemen gizi dan bantuan lainnya. Namun tiba-tiba sebuah drone datang dan menembaki mereka hingga banyak yang meregang nyawa bahkan tewas seketika.
Serangan udara lainnya dilaporkan juga terjadi di kamp Al-Bureij, Gaza Tengah. Beberapa orang tewas, dan sejumlah lainnya luka-luka. Di kota Rafah, tiga warga sipil, termasuk seorang perempuan, juga tewas akibat tembakan militer Zionis di dekat pusat distribusi bantuan.
Tanggal 20 Juli 2025 kejadian serupa terulang. Ribuan warga Gaza yang sedang berjibaku mengambil bantuan tiba-tiba ditembaki pasukan militer dari dekat. 73 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Zionis berdalih kerumunan ribuan itu membahayakan mereka, dan tembakan itu hanya digunakan sebagai peringatan saja!
Penembakan warga sipil yang mencari bantuan di Gaza, memang sudah menjadi pemandangan rutin di sana. Mereka tahu bahwa mendekati pusat bantuan bisa jadi harus dibayar nyawa. Namun itulah satu-satunya cara yang memungkinkan mereka dan keluarga bisa punya makanan untuk menyambung nyawa. Mereka rela menantang maut hanya untuk mendapatkan sekantong tepung, demi anak dan keluarganya.
Juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyebutkan, hingga 21 Juli, tercatat ada 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antara mereka tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 lainnya tewas di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya. (BBC World Service, 23/7). Situasi mengerikan ini terjadi sejak Zionis dan Amerika membatasi akses bantuan dengan dalih keamanan.
Penguasa Muslim, Kalian Dimana?
Pihak Zionis terus bersikeras bahwa tidak ada kekurangan bantuan di Gaza. Mereka juga membantah telah menjadikan kelaparan sebagai alat perang untuk melumpuhkan Gaza. Mereka justru menuding Hamas telah merampok bantuan untuk diberikan kepada para anggotanya atau dijual untuk mengumpulkan dana. Mereka juga menuding, bahwa Hamas telah menggelembungkan data kematian demi menarik simpati dunia internasional.
Namun fakta menunjukkan, bahwa kelaparan akut memang sedang mewabah di wilayah Gaza terutama sejak blokade total diberlakukan. Kenekatan warga Gaza mendatangi pusat-pusat bantuan meski dengan resiko kematian hanyalah sebagian kecil dari dampak strategi pelaparan yang dilakukan Zionis atas restu Amerika.
Adapun sebagian besar lainnya, harus bertahan dengan apapun yang ada di sekitarnya. Beredar video-video dan gambar yang memperlihatkan tubuh-tubuh super kurus, anak-anak kecil yang memakan rumput dan pakan ternak, ibu-ibu yang mengais-ngais sisa tepung di jalanan, dan orang tua yang meregang nyawa karena lapar, serta pemandangan mengenaskan lainnya. Semua ini mengonfirmasi level penderitaan yang dialami muslim Gaza di bawah kontrol penuh militer zionis atas restu Amerika.
WHO sendiri memperingatkan, tingkat malnutrisi di jalur Gaza sudah sampai pada tingkat yang membahayakan. Tanggal 29 Juli 2025, Kantor Berita Anadolu Ajansi merilis data, ada 88 anak dari 147 orang yang tewas di Gaza karena kelaparan. Krisis kelaparan di Gaza ini benar-benar telah berkembang menjadi bencana kemanusiaan. 1,1 juta anak Gaza terancam punah. Ini semua tentu menjadi ancaman serius terhadap generasi yang akan datang.
Mirisnya, tidak ada satupun lembaga internasional, penguasa dunia, terutama penguasa Muslim yang berani melakukan pembelaan. PBB hanya bisa berkoar-koar menyebut bahwa entitas Zionis itu telah melakukan kejahatan perang. Surat penangkapan Benyamin Netanyahu yang dikeluarkan Mahkamah Internasional pun hanya sekadar basa-basi politik atasnama hukum internasional.
Mayoritas penguasa di dunia nampak memilih bungkam lantaran menghitung kepentingan politiknya. Bahkan mayoritas mereka berdiri di sisi zionis dan Amerika, baik secara tertutup maupun terang-terangan. Ada memang yang berani keras berbicara dan menentang upaya genosida Zionis atas warga Gaza semisal negara-negara Amerika Selatan dan Afrika. Namun apa daya, suara mereka nyatanya sama sekali tidak ada pengaruh signifikan.
Lantas di mana para penguasa seagama? Mereka semua memilih sikap diam, seakan tuli buta dan sibuk memainkan drama agar tidak tercoreng muka. Mereka berkoar-koar membela Palestina dan Gaza, tapi tangan dan kaki mereka terikat perjanjian rahasia dengan Zionis dan Amerika.
Lihatlah penguasa Mesir yang alih-alih mengunakan tentaranya untuk mendobrak pintu Rafah dan berjihad melawan pasukan Zionis di Gaza. Abdul Fattah As-Sisi justru memerintahkan tentaranya untuk turut menjaga perbatasan Rafah agar tetap tertutup rapat dengan alasan menjaga kepentingan nasionalnya padahal sejatinya ia takut jika berseberangan dengan tuannya, yakni Amerika. As-Sisi, bahkan menangkapi para pemuda yang berupaya mengirimkan bantuan ke Gaza dan menerapkan "pemantauan keamanan" ala Mesir yang dikenal kejam.
Begitu pun dengan penguasa Emirat Arab dan Yordania. Alih-alih mengerahkan tentaranya untuk menolong Gaza, mereka pun hanya bisa menawarkan bantuan melalui udara (airdrops), yang justru menjadi sebab musibah berikutnya. Tahun lalu saja, puluhan warga Gaza yang kelaparan tenggelam atau terluka ketika mencoba mengambil paket makanan yang jatuh ke laut di Gaza utara. Tidak heran jika baru-baru ini para pemimpin di Gaza justru menolak tawaran mereka, dan menyebut itu semua sebagai "sandiwara media" yang tidak menyelesaikan kelaparan ataupun mencerminkan kebutuhan nyata rakyat di Gaza.
Lantas bagaimana dengan para pemimpin Muslim lainnya, termasuk penjaga tanah Haram, sang Raja Muhammad Bin Salman? Rupa-rupanya mereka semua sedang dimabuk kekuasaan dan sibuk menjaga perasaan sang Tuan (AS). Solidaritas mereka cukup diungkap pada pidato basa basi yang berkobar-kobar, atau dititipkan pada pidato dan doa para imam, sementara tentara dan senjata yang mereka bangga-banggakan, rapi mereka simpan dengan dalih ada aturan internasional yang tidak boleh dilanggar.
Kesadaran Global, Tidak Cukup Sekadar Kemanusiaan
Sikap diam para penguasa dunia, termasuk para penguasa muslimnya memang sama sekali tidak bisa diterima. Bagaimana bisa, mereka menutup mata atas bencana besar yang ditimbulkan gerombolan manusia terkutuk sementara mereka punya kekuatan dan sumberdaya lebih besar? Sebegitu kuatnyakah entitas Zionis dan Amerika, hingga mereka memilih diam dan membiarkan kezaliman bersimaharajalela di depan mata mereka?
Wajar jika dunia marah bukan hanya pada penjajah zionis dan Amerika, tapi juga pada para penguasanya. Aksi-aksi solidaritas dan protes keras pun terjadi secara bergelombang bahkan kolosal di berbagai penjuru dunia, termasuk di Amerika. Bukan hanya aksi-aksi turun ke jalan para aktivis kemanusiaan dunia rela berkalang nyawa untuk mengirimkan bantuan melalui kapal-kapal laut ke Gaza atau berjalan ke zona merah Rafah demi mendesak agar pintu maut itu dibuka.
Aksi March to Gaza yang viral sebelumnya, adalah salah satu ekspresi kemarahan dunia. Meski tidak memberi pengaruh signifikan atas penjajahan di Gaza, tapi spiritnya terus menggema. Begitupun yang kini sedang viral di dunia maya, yakni aksi sejumlah warga mesir yang melempar botol berisi bahan makanan ke lautan dan berharap bisa sampai ke pantai Gaza. Semua itu mengekspresikan kesedihan atas ketidakberdayaan mereka untuk menolong Gaza, sekaligus mengekspresikan kemarahan atas sikap diam para penguasa mereka melihat kekejaman tiada tara yang terjadi di Gaza.
Di beberapa tempat, kemarahan itu bahkan sudah sampai puncaknya. Pada 28 Juli 2025, sekelompok massa pemuda Mesir melancarkan serangan yang berani terhadap kantor polisi di Mas'asara. Mereka marah atas tragedi kelaparan massal di Gaza akibat blokade yang mereka pandang pemerintah Mesir ikut andil di dalamnya.
Insiden Mas'asara ini menyusul gelombang protes di berbagai kedutaan besar Mesir di ibukota Eropa pada minggu sebelumnya. Pemicunya, adalah tindakan aktivis Anas Habib di Belanda, yang secara simbolis mengunci gerbang kedutaan untuk memprotes penutupan penyeberangan Rafah di perbatasan Mesir-Gaza.
Munculnya berbagai ekspresi ini sejatinya wajar adanya. Namun bagi umat Islam, tentu tidak cukup berhenti pada level simpati dan tergerak secara kemanusiaan saja. Ada persoalan akidah yang berkelindan dalam soalan Palestina terkhusus Gaza. Perasaan dan sikap mereka atas nasib muslim Gaza menjadi salah satu barometer untuk mengukur keimanan mereka.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR: Bukhari dan Muslim)
Wujud cinta hakiki adalah kesiapan berkorban demi yang dicintai. Cinta hakiki pun berarti membenci saudaranya tertimpa keburukan sebagaimana ia membenci keburukan itu menimpa dirinya. Sehingga orang yang benar-benar mencintai akan berupaya menghilangkan keburukan itu dengan berbagai cara yang bisa ia lakukan.
Sayang hari ini, umat Islam tidak bisa mengekspresikan cinta hakiki sesuai tuntutan iman. Dominasi sistem sekuler kapitalisme telah menggerus standar-standar dan rida-benci hanya sebatas standar keduniaan. Sehingga ada kewajiban bagi kita untuk meluruskan niat dan pemahaman, bahwa spirit menolong Gaza bukan sekadar karena alasan kemanusiaan, tapi karena iman mengharuskan. Diluar dorongan iman, maka setiap rasa, pemikiran dan langkah apapun yang dilakukan untuk menolong Gaza-Palestina tidak akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Aksi Nyata, Adalah Menegakkan Khilafah Sang Penjaga
Penting dipahami bahwa apa yang terjadi di Gaza-Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan biasa. Akar persoalannya adalah pencaplokan wilayah umat Islam yang ditempati Muslim Palestina oleh entitas Zionis dengan dukungan negara-negara adidaya, khususnya Inggeris dan Amerika. Mereka sengaja membuat sebuah negara buatan yang akan menjadi duri di jantung umat Islam sehingga terjadi konflik abadi dan kekuatan mereka bisa terus dilemahkan.
Saat umat Islam hidup di bawah payung khilafah, musuh-musuh Islam dari kalangan Yahudi dan Nasrani tidak berani berbuat macam-macam. Saat Theodore Herzl pemimpin Zionis datang pada khalifah Abdul-Hamid II dan berusaha membujuk agar bisa membeli tanah di Palestina dengan bayaran mahal dan kompensasi pembayaran hutang negara, dll., sang khalifah marah dan membongkar niat terselubung Herzl soal rencana pendirian negara Israel-Raya.
Ambisi Herzl yang berkelindan dengan ambisi Inggeris dan sekutunya, justru baru bisa terwujud saat umat Islam sudah kehilangan khilafah sang penjaga. Bahkan bukan hanya pendirian negara zionis saja, umat Islam yang tadinya bersatu di bawah naungan khilafah berhasil dikerat-kerat hingga menjadi lebih dari 50 negara dengan sekulerisme sebagai asas dan aturan undang-undangnya.
Sejak saat itulah, umat Islam seakan buih di lautan sekaligus hidangan yang diperebutkan banyak orang. Mereka tidak punya kekuatan, sebagaimana terlihat dalam soal Gaza dan Palestina. Jumlah 2,04 milyar umat Islam, dengan segala sumberdaya yang ada di negeri-negeri mereka, nyatanya tidak mampu menghapus kezaliman yang ditimbulkan oleh 10 juta makhluk hina yang moyangnya dikutuk menjadi kera hanya karena takut pada Amerika yang dianggap digdaya. Umat Islam tidak berdaya menghapus air mata Gaza dan melihat kekejaman demi kekejaman menimpa mereka.
Oleh karena itu, menolong Gaza Palestina harus dengan meniti langkah yang terukur dan terencana. Targetnya adalah mewujudkan kembali institusi politik Islam yang benar-benar berfungsi sebagai perisai penjaga. Yakni negara adidaya yang siap memobilisasi seluruh kekuatan umat dan mengomando jihad fi sabilillah demi mengusir penjajah. Itulah negara khilafah yang sepanjang 14 abad telah berhasil menyatukan umat Islam atas dasar akidah, menyejahterakan mereka dan menjadikan negaranya benar-benar digdaya melalui penerapan seluruh hukum syara.
Langkah ini tentu harus diawali dari hadirnya kesadaran, bahwa iman adalah landasan kehidupan, dan konsekuensi iman adalah ketaatan pada seluruh syariat Islam yang pelaksanaannya menjamin kemuliaan dan kerahmatan bagi seluruh alam. Semua ini mengharuskan adanya dakwah kepada Islam kafah, yakni dakwah Islam ideologis, yang bersifat pemikiran, politis, berjemaah dan non kekerasan sebagaimana dicontohkan baginda Rasulullah SAW.
Semoga keterlibatan nyata kita dalam dakwah penegakkan khilafah ini, menjadi hujjah, manakala kelak para korban kezaliman di Gaza menuntut pertanggungjawaban. Semoga janji Allah dan nubuwat soal kembalinya khilafah rasyidah yang kedua, segera terwujud melalui tangan-tangan kita.
Amin ya Rabbal 'alamiin.