| 136 Views
Kecelakaan Berulang, Nyawa Melayang tak Terbilang
Oleh : Neng Saripah S.Ag
Dilansir dari BBCnewsindonesia (5/feb/2025) Berjumlah delapan orang meregang nyawa dan 11 lainnya luka-luka akibat tabrakan beruntun di pintu Tol Ciawi di Bogor, Jawa Barat pada Selasa (04/02) malam.
Dikutip dari Kompas.com, pasalnya kecelakaan beruntun itu melibatkan enam kendaraan tepatnya di Gerbang Tol (GT) Ciawi arah Bogor-Jakarta.
Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, pada berita satu (6/feb/ 2025) menyoroti bahwa kesejahteraan dan standar keselamatan sopir truk merupakan salah satu penyebab berulangnya kecelakaan maut di jalan tol, seperti halnya yang terjadi di Gerbang Tol (GT) Ciawi.
"Profesi sopir merupakan pekerjaan yang paling tidak diminati. Tak sedikit dari mereka memilih menjadi sopir karena tidak memiliki pilihan lain. Mereka bahkan sering kali mendapatkan SIM tanpa melalui ujian yang layak," ujarnya
Hanya sekitar 10% pengemudi yang benar-benar memahami aturan berkendara, baik untuk truk tunggal, gandeng, maupun trailer. Banyak dari mereka yang tidak tahu bagaimana menggunakan gigi yang tepat saat melewati jalan menurun atau menanjak. Bahkan, ada yang menghemat bahan bakar dengan meluncurkan kendaraan dalam posisi netral, tanpa memahami risiko besar yang ditimbulkan," tambahnya.
Tak hanya itu, Agus juga menyoroti kesejahteraan sopir yang masih di bawah ideal. Ia juga mengkritik sistem kerja vendor yang tidak memperhatikan kesejahteraan sopir.
"Upah sopir banyak di bawah UMR, sementara jam kerja sangat panjang. Mereka dipekerjakan tanpa memperhitungkan waktu istirahat yang cukup. Begitu selesai satu perjalanan, langsung disuruh berangkat lagi tanpa peduli apakah mereka lelah atau tidak," jelasnya.
"Sebagian besar truk yang mengangkut barang bukan milik perusahaan produksi, melainkan milik vendor. Para vendor ini hanya memikirkan target pengiriman tanpa mempertimbangkan kondisi sopir," tambahnya.
Sebagai perbandingan, Agus bahkan mencontohkan standar keselamatan bagi pilot. "Pilot memiliki aturan ketat terkait waktu istirahat, bahkan harus tidur telentang di tempat tidur, bukan di kursi atau kolong bagasi seperti yang sering dialami sopir bus dan truk," jelasnya.
Selain itu, masih pada Beritasatu.co (6/feb/2025) Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad juga angkat bicara terkait kecelakaan maut yang terjadi di Gerbang Tol Ciawi tersebut. Dasco menyatakan insiden ini harus menjadi pelajaran penting bagi pemilik kendaraan, baik individu maupun perusahaan, serta instansi pemerintah terkait untuk melakukan pemeriksaan kendaraan secara berkala.
Menurut Dasco, salah satu penyebab utama kecelakaan adalah rem blong, yang bisa terjadi pada kendaraan pribadi, angkutan umum, maupun kendaraan niaga seperti truk dan bus. Untuk itu, Dasco menekankan perlunya pengecekan rutin untuk memastikan keselamatan.
Lebih lanjut, Dasco mengimbau agar pemerintah dan aparat kepolisian memperketat pengawasan terhadap pemilik kendaraan. Jika terbukti lalai dalam melakukan pengecekan berkala, sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan harus diberikan.
Meski demikian, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan masih mendalami penyebab kecelakaan di Gerbang Tol Ciawi 2, Bogor, Jawa Barat. Kompas.com (7/feb/2025)
Disisi lain Ahmad Wildan, Investigator Senior Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan, pihaknya belum bisa mengungkap fakta terkait penyebab kecelakaan sampai saat ini, sebab bangkai kendaraan terbakar dan supirnya blm bisa dimintai keterangan.
Sebagai pamungkas, tempo.co (8/feb/2025) mengungkapkan bahwa kecelakaan berbuntut yang merenggut nyawa tidak hanya terjadi di gerbang tol ciawi, namun terjadi di berbagai titik. Bahkan dalam beberapa bulan terakhir, diantaranya; Kecelakaan beruntun yang terjadi di Km-92 Jalan Tol Cipularang pada Senin, 11 November 2024. Lalu Mobil Mitsubishi XForce yang ringsek tertimpa muatan besi baja dari truk usai kecelakaan di Jalan Tol Depok-Antasari (Tol Desari) KM 4+400 arah Depok, tepatnya di Kelurahan Pangkalan Jati Baru, Kecamatan Cinere, Kamis, 12 Desember 2024. Selain itu ada juga Kecelakaan bus dan truk di Tol Pandaan-Malang terjadi pada 23 Desember 2024 dan mengakibatkan empat orang tewas. Serta Kecelakaan beruntun terjadi di KM 97+200 Jalan Tol Cipularang pada Ahad, 5 Januari 2025. Lokasi kecelakaan berada di ruas jalan Purbaleunyi yang mengarah ke Bandung.
Berulangnya kecelakaan di jalan tol tersebut, terjadi sebab ada masalah pada person juga sistem, di antaranya adalah Kapabilitas sopir, dari soal pemberian SIM hingga pengetahuan tentang kendaraannya, kesadaran untuk melakukan pengecekan kendaraan, hingga beban kerja sopir yang berat, juga tentang mekanisme pengaturan kendaraan di jalan tol.
Hal ini juga terkait dengan lemahnya regulasi keselamatan, tidak optimalnya pengawasan, serta penegakkan hukum yang jauh dari kata maximal. Semua itu menunjukkan lemahnya jaminan keselamatan transportasi dan mitigasi yang berdasarkan pada sistem kapitalisme, yang menjadikan negara hanya sebagai operator dan fasilitator.
Islam memandang bahwa jalan adalah kebutuhan publik dan memiliki kegunaan khusus sehingga membutuhkan perhatian khusus. Maka mekanisme perbaikan kendaraan harus dilakukan berkala untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
Demikian halnya dengan pengecekan kelayakan jalan bagi kendaraan yg melintas harus dilakukan secara berkala. Juga pemastian bahwa pengemudi memenuhi semua syarat yang berlaku sehingga dapat berkendara dengan aman dan pengaturan beban kerjanya.
Semua itu akan mudah diwujudkan karena Islam menjadikan negara sebagai raa'in yang akan memberikan layanan berkualitas terhadap rakyatnya, termasuk memberikan jaminan kesejahteraan pada para pengemudi.
Wallahualam bishawab.