| 48 Views
Kasus Pembunuhan di Medan : Alarm Bagi Pendidikan Karakter dan Kesehatan Mental Keluarga
Lokasi anak perempuan bunuh ibu kandung di Medan. [Istimewa]
Oleh: Fatimah R. S
Publik digemparkan dengan peristiwa pembunuhan seorang ibu muda di Medan dengan terduga pelaku anak kandungnya yang masih di bawah umur. Diduga, si anak kesal karena dimarahi oleh ibunya. Peristiwa yang masih menyisakan tanda tanya besar tersebut menjadi pengingat besar tentang rapuhnya hubungan keluarga jika nilai moral dan ketahanan emosional tidak dibangun sejak dini.
Banyak pihak melihat bahwa kejadian seperti ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan merupakan akumulasi dari tekanan mental, kurangnya bimbingan, hingga pola komunikasi yang tidak berjalan dengan baik di rumah. Di zaman kapitalisme sekuler kasus pembunuhan seringkali muncul di media dengan kasus yang mengejutkan banyak pihak. Ironisnya, jumlahnya cukup mengejutkan . Hingga awal November, Pusiknas Polri mencatat terdapat 908 kasus pembunuhan yang terjadi di Indonesia sepanjang tahun 2025. Penyebabnya beragam, namun bisa diseragamkan dengan pembunuhan yang disengaja bahkan direncanakan.
Bisa dibayangkan berapa nyawa yang melayang sepanjang tahun ini? Mengapa hal tersebut bisa terjadi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam?
Tak bisa dipungkiri, sistem kehidupan yang diterapkan sangat erat kaitannya dengan perilaku masyarakat. Saat ini kita hidup di bawah sistem kapitalisme yang tidak memiliki aturan yang benar bagi kehidupan. Kebebasan yang menjadi sendi bagi tegaknya kapitalisme sekuler telah meniscayakan berbagai perilaku yang diluar kendali syariat.
Dalam keluarga misalnya Islam memiliki rambu rambu agar hubungan orang tua dan anak bisa berjalan harmonis. Orang tua wajib memberikan kasih sayang dan pendidikan yang sesuai dengan Islam agar anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang shalih dan shalihah.
Sementara itu seorang anak memiliki kewajiban untuk berbakti dan taat kepada kedua orangtuanya dalam koridor ketaatan kepada Allah SWT.
Islam juga menekankan pentingnya pengendalian emosi. Anak yang tumbuh tanpa bimbingan emosional dan spiritual cenderung kesulitan menghadapi tekanan, sehingga mudah meledak dalam situasi tertentu. Peristiwa ini mengingatkan masyarakat tentang urgensi pendidikan karakter, bukan hanya melalui sekolah, tetapi melalui nilai-nilai moral dan agama yang diterapkan di rumah.
Namun demikian, harus diakui pendidikan di rumah bisa berjalan optimal jika lingkungan saling mendukung. Untuk itulah kontrol sosial yang didukung oleh negara memainkan peranan yang tak kalah penting. Dengan kekuasaannya negara wajib menghadang konten-konten baik yang berupa game maupun konten liar yang memberikan semaca inspirasi bagi anak untuk berbuat tidak baik.
Peristiwa ini pada akhirnya selain mengajak keluarga untuk kembali memperkuat aqidah Islam sebagai pondasi dasar sebuah keluarga, juga mengajak seluruh kaum muslim untuk kembali hidup di bawah naungan Islam.
Wallahualam bishshowab