| 449 Views

Kasus Bullying Makin Marak, Bukti Sistem Kapitalisme Sangat Rusak

Oleh : Hilda
Aktifis Dakwah

Kasus bullying kembali berulang di kalangan pelajar. Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), terdapat 30 kasus bullying alias perundungan di sekolah sepanjang 2023. Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya yang berjumlah 21 kasus.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, dilansir dari Suara.com terdapat kasus bullying yang dilakukan oleh siswa Binus Internasional School Serpong. Kasus bullying ini terjadi di salah satu warung dekat sekolah. Diduga lebih dari satu orang menjadi pelaku sehingga menyebabkan sebagian tubuh korban mengalami memar dan luka bakar.
Perundungan atau bullying berupa kekerasan fisik dan psikis yang diduga dilakukan belasan siswa senior Binus School Serpong terhadap juniornya disebut oleh kriminolog sebagai "perundungan ekstrem". Salah satu pelaku perundungan atau pembullyan merupakan anak dari keluarga terpandang yakni anak dari artis Indonesia.
Kasus bullying terjadi karena kurangnya peran orang tua untuk mendidik anak-anaknya. Peran orang tua sangat penting dalam mendidik generasi, agar tidak menciptakan generasi yang lemah iman, dan tidak takut melakukan perbuatan dosa seperti sekarang ini. Selain itu, lingkungan mereka juga berpengaruh, sebagai orang tua, kita harus memperhatikan pergaulan anak, dengan siapa mereka bergaul agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.
Di sistem kapitalis sekarang ini, peran orang tua dalam mendidik anak anaknya sangat sedikit, karena mereka disibukkan dengan pekerjaan dan mencari materi agar kehidupan jasmani keluarga dan anak anaknya terpenuhi, tidak memikirkan kehidupan rohaninya.

Peran ibu yang seharusnya menjadi madrasah anak tidak terpenuhi akibat sistem kapitalisme yang mengharuskan wanita bekerja agar bisa disebut sebagai wanita karir. Padahal dalam urusan mencari nafkah itu adalah tugas laki-laki. Akibatnya generasi akan mudah rusak jika tidak ada pembinaan yang benar sesuai syariat Islam.
Dalam perspektif Islam, tindakan perundungan (bullying) dianggap sebagai perbuatan yang sangat tercela. Islam adalah agama yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan, termasuk prinsip untuk menghormati dan peduli terhadap sesama manusia, menyakiti atau merendahkan orang lain, termasuk perundungan. Hal itu sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam Surah Al-Hujurat ayat 11:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah satu kelompok mengolok-olok kelompok lain, karena mungkin kelompok yang diejek itu lebih baik dari yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan-perempuan lain, karena mungkin perempuan-perempuan yang diejek itu lebih baik dari perempuan-perempuan yang mengolok-olok. Dan janganlah kamu saling mencaci diri sendiri."
Mengutip laman Kemenag, ayat tersebut dengan jelas melarang kita untuk mengejek, mencemooh, apalagi melukai fisik orang lain. Karena mungkin orang yang menjadi sasaran ejekan atau cemoohan justru memiliki martabat yang lebih tinggi daripada yang mengejek.

Dalam segala konteks, penghinaan adalah perbuatan yang sangat tercela karena dapat menyakiti perasaan orang lain. Terutama jika perbuatan tersebut terjadi di depan publik. Demikian juga perundungan, baik dalam dunia nyata maupun dalam lingkungan maya yang mencakup penghinaan, ujaran kebencian, celaan, sumpah serapah, atau tindakan fisik terhadap pihak lain, adalah tindakan yang keji (fahsya').

Hanya Islamlah yang mampu mencetak generasi hebat dengan kepribadian Islam, bertakwa, dan berjiwa pejuang. Sistem Islam mempunyai cara yang tepat dalam membina generasi, diantaranya yang pertama yaitu perlunya peran orang tua, terutama orang tua yang berkewajiban mendidik anak-anaknya, serta memberikan pemahaman akidah Islam yang benar.
Yang kedua adalah pendidikan. Pendidikan yang baik dengan kurikulum berbasis akidah untuk mencetak generasi yang berakhlakul karimah. Untuk itu perlu peran guru yang berkualitas dengan mengikuti syariat Islam agar tercipta generasi yang smart with Islam.

Yang ketiga adalah peran masyarakat, masyarakat juga berperan penting untuk menciptakan lingkungan yang islami, dan tidak menciptakan lingkungan yang buruk.
Yang terakhir adalah peran negara, negara harus memiliki sistem yang benar yakni sistem Islam, bukan sistem sekulerisme. Islam memecahkan problematika umat dengan cemerlang, dan memberikan solusi yang hakiki.
Generasi hari ini harus sadar bahwa potensi yang dimiliki sangat berharga, sudah saatnya kita menjadi generasi yang smart with Islam.

Wallahualam


Share this article via

193 Shares

0 Comment