| 648 Views

Kapitalisme Biang Kerusakan Yang Menyengsarakan

Oleh : Liyanti Ummu Syifa

Bencana banjir kerap terjadi belakangan ini, terutama memasuki akhir tahun 2024 dan awal tahun Januari 2025, curah hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab bencana tersebut.

Banjir tidak hanya terjadi di suatu daerah, akan tetapi bencana ini melanda di beberapa wilayah Indonesia.

Mengutip dari CNN Indonesia.com, Sabtu 11Januari 2025, kepala pusat data informasi dan komunikasi kebencanaan, Abdul Muhari mengatakan bahwa bencana banjir terjadi dari Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat (NTB), bencana tersebut menyebabkan tanah longsor dan banjir, sehingga banyak kerusakan, baik perumahan maupun pesawahan, serta lahan pertanian milik warga, baik itu rusak parah dan rusak ringan.

Di daerah Palembang, tepatnya di kecamatan Ujan Mas, terdapat 470 rumah terdampak banjir, sementara di kecamatan Berakat ada 361 rumah.

Demikian juga kabupaten Banyumas, hujan deras dan angin kencang terjadi di tujuh kecamatan pada hari yang sama, sehingga berdampak pada 265 jiwa, dengan ketinggian air rata-rata 100 centimeter.

Di Jawa Timur, banjir bandang terjadi di desa Gunungsari, kecamatan Maesan kabupaten Bondowoso, yang berdampak 400 rumah rusak berat, serta merusak 4 hektar lahan pertanian. Walaupun warga sudah dievakuasi, namun Abdul dari tim evakuasi mengatakan, adanya kesulitan dan keterbatasan akses serta jaringan komunikasi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), memberikan himbauan kepada masyarakat agar lebih waspada, serta menyusun rencana evakuasi mandiri dan kewaspadaan, untuk meminimalisasi dampak yang lebih besar.

Dari fakta di atas, banjir seolah menjadi musibah tahunan atau bencana langganan, semestinya pemerintah memberikan solusi, dengan melakukan upaya antisipasi dan mitigasi banjir yang lebih serius, karena lemahnya penanganan, akan membahayakan nyawa masyarakat.

Mitigasi yang cenderung lemah menandakan bahwa negara belum bisa menjadi raa'in atau pemimpin, dan inilah yang kerap terjadi dalam sistem kapitalisme, di mana negara hanya menjadi regulator dan fasilitator, yang lebih mengutamakan kepentingan para pemilik modal, namun abai kepada rakyatnya.

Bencana ini juga terjadi akibat banyaknya bangunan ala kapitalisme, yang memberikan kebebasan bagi oligarki yang mengubah lahan serapan menjadi lahan bisnis.

Sistem kapitalisme juga menyebabkan pemerintah abai atas keselamatan rakyat dan kerusakan alam, tetapi lebih fokus pada pertumbuhan ekonomi.

Dalam Islam negara wajib menghindarkan rakyatnya dari kemudharatan termasuk bencana. Negara akan melakukan perencanaan secara matang dalam membangun perkotaan maupun pedesaan, dan lebih berorientasi pada kemaslahatan seluruh rakyat, serta membangun kota yang berbasis mitigasi bencana, seperti memberikan pelatihan kesadaran terhadap bencana, membuat sistem peringatan dini, pembuatan bahan bangunan tahan gempa, dan lain sebagainya.

Islam juga mengatur konservasi atau upaya dalam melestarikan dan melindungi sumber daya alam. Sehingga dapat melestarikan dan melindungi ekosistem maupun habitat dalam keanekaragaman hayati, serta dapat mengurangi kerusakan lingkungan.

Islam juga mengharuskan adanya pemetaan wilayah sesuai potensi bencana, berdasarkan letak geografisnya, sehingga akan membangun tata ruang yang berbasis mitigasi yang aman untuk manusia dan alam.

Semua hal tersebut dilakukan oleh negara, karena Islam menjadikan penguasa sebagai raa'in dan junnah, yang mengawasi, melindungi, menjaga, serta mengurus rakyatnya, termasuk dalam menghadapi bencana.

Wallahualam bishawab.


Share this article via

129 Shares

0 Comment