| 117 Views

Hari Santri Nasional 2025, Santri Agen Pengemban Islam atau Pengemban Demokrasi?

Oleh: Cucu Juariah

Aktivis Muslimah

Uindatokarama.ac.id Jakarta (kemenag) pada 19-09-2025, mengatakan bahwa peringatan Hari Santri 2025 akan digelar dengan semangat baru dan skala yang lebih luas. Mengusung tema besar “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, peringatan tahun ini bukan hanya perayaan seremonial, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk meneguhkan peran santri sebagai agen perdamaian, penjaga moral bangsa, dan motor penggerak peradaban dunia.

Staff Khusus Menteri Agama Bidang Kebijakan Publik, Media/Hubungan Masyarakat, dan Pengembangan SDM, Ismail Cawidu menegaskan bahwa seluruh rangkaian Hari Santri 2025 disiapkan secara terpadu untuk menggambarkan tiga peran utama santri masa kini, yaitu sebagai duta budaya, agen perubahan sosial, dan motor kemandirian ekonomi.

Di laman kemenag.go.id, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan bahwa pentingnya santri ikut serta dalam pemberdayaan ekonomi umat. Ia menyebut potensi besar dari zakat, infak, sedekah, wakaf, kurban, hingga fidyah yang bila dikelola dengan baik dapat menjadi sumber kemandirian ekonomi bangsa.

“Kalau kita olah pundi-pundi umat ini secara optimal, umat bisa terbebas dari kemiskinan. Di sinilah santri punya peran besar, bukan hanya sebagai penjaga moral bangsa, tetapi juga motor ekonomi umat,” pungkasnya.

Arah Tujuan Para  Santri

Santri, yang dalam pemahaman umum berarti orang yang mempelajari Islam di pesantren.

Islam sendiri adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Rosulullah SAW untuk mengatur manusia mengenai hubungannya dengan penciptanya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya.

Islam tentu memiliki sistem peraturan yang khas untuk diterapkan dalam segala aspek kehidupan manusia. Islam memiliki sistem ekonomi Islam, sistem politik Islam, sistem pergaulan Islam, sistem pendidikan Islam, dan lain sebagainya.

Tentu sudah sewajarnya jika tujuan para Santri itu adalah untuk meraih ridha Allah. Mereka mempelajari Islam di sana agar kehidupan bisa berjalan sesuai dengan perintah dan larangan Allah, baik dalam  kehidupan mereka pribadi, maupun  juga kehidupan masyarakat di mana mereka tinggal.

Artinya, seharusnya para santri adalah para pemuda  kaum muslim yang potensial untuk merubah kehidupan yang tidak Islami, kepada kehidupan yang Islami.

Juga untuk mewujudkan kembali sistem kehidupan Islam yang rahmatan lil'alamiin. Menggantikan sistem kehidupan yang tidak Islami seperti sistem demokrasi, yang diterapkan di Indonesia saat ini. Sistem yang hanya melahirkan lingkaran korupsi yang berkesinambungan dan tidak berujung.

Demokrasi Mendukung Pesantren

Memang benar kita dapat melihat berbagai sikap pemerintah Indonesia yang mengusung asas demokrasi seakan mendukung berkembangnya para santri, dan tidak terganggu dengan bertambahnya jumlah pesantren berikut jumlah santrinya.

Tetapi hal tersebut hanya dapat terjadi selama islam yang diberikan kepada para pemuda-pemudi kaum muslim adalah islam yang di interpretasikan sesuai dengan keinginan mereka. Melalui tangan-tangan para penggembala yang mereka tunjuk untuk menggembalakan para pemuda muslim atau para santri ini agar menjadi pilar-pilar pengokoh demokrasi, dan objek eksploitasi kaum Kapitalis. Baik tenaga maupun pemikirannya, dengan memberikan mereka visi-visi umum seperti perdamaian, moral, peradaban, perubahan, kemajuan yang ambigu.

Sedangkan arahan apapun yang mengarahkan para santri kepada pemahaman bahwa Islam harus diterapkan secara menyeluruh, atau dijadikan asas peraturan negara akan segera dilabeli sebagai aktifitas yang radikal, intoleran.

Padahal Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." (TQS. At-Taubah 9: Ayat 33)

Dalam ayat lain dikatakan:

"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 36).

Khatimah

Maka sudah seharusnya bagi kita kaum Muslim untuk senantiasa memperhatikan arah tujuan para santri agar tetap pada jalur yang seharusnya yaitu meraih ridho Allah.  Penerapan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan pribadi maupun bernegara. Juga tidak membiarkan para santri untuk diarahkan sebagai pengokoh sistem demokrasi yang jelas tidak Islami.

Wallahu a'lam.


Share this article via

32 Shares

0 Comment