| 44 Views

Gerakan Global March to Gaza pun Tak Bisa Bebaskan Palestina

Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Nestapa Palestina hingga kini belum usai. Sudah tak terhitung korban jiwa dan terluka terus bertambah dari semua kalangan akibat serangan berkepanjangan yang dilakukan Zionis Yahudi. Tidak hanya itu, genosida pun dilakukan dengan membiarkan warga Palestina kelaparan dan kehausan. Entitas tersebut memutus dan menghadang segala bentuk bantuan kemanusiaan yang masuk.

Serangan militer kepada warga yang tengah mengantre di saat ada bantuan kemanusiaan yang bisa masuk, menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka. Mengapa negara-negara besar di dunia diam seribu bahasa? Para penguasa Muslim hanya menyibukkan diri dengan retorika saja, tanpa aksi nyata untuk menghentikan kebiadaban Israel. Apakah ini yang pertanda sudah mati rasa kemanusiaan para penguasa yang tak bergeming untuk mengirimkan pasukan guna mengusir penjajah laknatullah?

Hingga akhirnya masih ada masyarakat yang masih peduli dengan munculnya gerakan Global March to Gaza. Gerakan ini merupakan aksi jalan kaki internasional sejauh kurang lebih 50 kilometer (km), dari Kairo, Mesir menuju Gerbang Rafah. Aksi tersebut dikabarkan akan diikuti 10.000 orang, yang berasal dari lebih 50 negara, dilaksanakan Ahad, 15 Juni 2025. Kejadian ini menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina (republika.co.id, 15/6/2025).

Ribuan orang mewakili lintas etnis dan benua berhimpun, mereka bukanlah diplomat tidak ada mandat resmi dari negara, mereka hanya menggenggam keyakinan, isu kemanusiaan di Palestina tak bisa terus ditunda. Mereka datang dari berbagai negara seperti Maroko, Amerika, Eropa, Asia, termasuk Indonesia. Latar belakangnya pun beragam, ada pensiunan, perawat, jurnalis, dokter, pegiat HAM, hingga anak muda biasa yang ingin berbuat sesuatu yang lebih dari kata-kata, mereka tak tahan lagi melihat berita dari Gaza. Gelombang nuranilah yang menuntun langkah mereka. Hal ini adalah bentuk diplomasi tanpa podium, tanpa protokol, dan tanpa basa-basi.

Gerbang Rafah mungkin dikunci, tapi nurani dunia tidak bisa dibungkam, aksi ini disebut diplomasi jalanan. Masihkah kita berharap dengan sistem dunia yang hanya mementingkan keuntungan pribadi atau golongan hingga aparat penjaganya pun dengan sedih dan pasrah berujar bahwa kami tidak bisa membantu karena ini ‘tugas’.

Munculnya gerakan Global March to Gaza (GMTA) menujukkan kemarahan umat yang sangat besar, karena tidak ada yang bisa diharapkan dari lembaga-lembaga internasional dan para penguasa saat ini. Tertahannya mereka di pintu Raffah membuktikan gerakan kemanusiaan apa pun tidak akan pernah bisa memberikan solusi untuk masalah Gaza karena ada pintu penghalang terbesar yang berhasil dibangun penjajah di negeri-negeri kaum Muslimin, yakni sistem nasionalisme atau konsep negara bangsa.

Paham ini telah memupus hati nurani para penguasa Muslim dan tentara mereka, hingga rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata bahkan ikut menjaga kepentingan pembantai hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka yakni negara adidaya Amerika.

Melihat kejadian ini, sebagai umat Islam sudah seharusnya paham betapa bahayanya sistem nasionalisme atau konsep negara bangsa. Jika dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya, konsep tersebut justru digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan khilafah dan melanggengkan penjajahan di negeri-negeri Islam.

Maka, untuk memberikan solusi bagi konflik Palestina wajib bersifat politik, yakni fokus membongkar sekat negara bangsa dan mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia. Hal tersebut dilakukan oleh kelompok atau gerakan politik ideologis yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah Islam. Maka, hal yang penting bagi umat Islam, segera mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa kenal sekat dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam di Bumi Allah SWT.


Share this article via

64 Shares

0 Comment