| 221 Views

Generasi Muda Menerbangkan Layangan Nyawa : Ada Apa Dengan Pemuda?

Oleh : Najmulfauziah

Kehidupan para pemuda, khususnya mahasiswa pada saat ini sangat memprihatinkan. Berbagai problematika kehidupan berada dipundak mereka. Mulai dari pendidikan, percintaan, bahkan keuangan, seolah mejadi hal yang wajar pada pemuda. Ini mengakibatkan kedudukan pemuda dipandang rendah ditengah masyarakat.  Hasil survei organisasi kepolisisan di Semarang, mendapat kasus-kasus yang cukup mencengangkan dari kalangan mahasiswa, yaitu banyaknya mahasiswa yang mengakhiri riwayat hidupnya dengan cara bundir alias bunuh diri.

Seperti yang dilakukan oleh seorang mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS), Semarang, Jawa Tengah. Mahasiswi yang berinisial EN (24) ini melakukan bunuh diri lantaran masalah tagihan-tagihan pinjol (pinjaman online) yang menghantui dirinya. Akhirnya setelah merasa tidak kuat dengan tekanan yang diberikan, EN memutuskan untuk melakukan bunuh diri (Kompas.com 13/10/23).

Aduh, ternyata kebijakan pemerintah membuat aplikasi pinjol yang beredar ke seluruh Indonesia itu, tidak memberikan perbaikan (solusi) terhadap kehidupan masyarakat sekarang. Bukannya sejahtera, rakyat semakin sengsara terlilit hutang. Terlebih kemudahan melakukan pinjol, membuat orang berbondong-bondong datang. Mereka tidak tahu bahwa kemudahan itu akan membawanya kepada kesengsaraan yang panjang bahkan tak berujung. Parahnya lagi, aplikasi pinjol ini tidak hanya digunakan oleh orang dewasa saja, ternyata ada pula anak-anak dibawah umur yang menyalahgunakan kemudahan pinjol. Maka masyarakat dari berbagai kalangan, mau yang muda atau tua, sudah mulai memikirkan masalah uang (hutang) terlepas dari umurnya.

Dengan keluarnya kasus-kasus bunuh diri ini, harus kita telusuri benar akar masalahnya. Tentunya ada banyak faktor internal maupun eksternal yang cukup mempengaruhi gaya hidup mereka sehari-hari, hal itulah yang akan kita telusuri sekarang.

Untuk faktor internal sendiri datang dari ekonomi. Tekanan ekonomi yang diikuti gaya hidup membuat mahasiswa lebih memilih jalur pinjol daripada bekerja keras. Pada akhirnya terlalu banyak pinjaman dan takut untuk ditagih, maka riwayat hidupnya berakhir ditali perhutangan yang berbuntut pada tali gantung.

Adapun faktor eksternal berasal dari gaya hidup yang membebek pada orang-orang barat yang mayoritas berkehidupan glamor. Fashion-nya good, fun-nya silver and gold, food-nya delicious, pokoknya kehidupan mereka tidak jauh dari aktivitas foya-foya. Sedangkan zaman sekarang, para remaja mengikuti gerak-gerik kehidupan orang-orang barat. Maka tak heran jika tuntutan hidup remaja zaman sekarang itu banyak, sebab membebek pada kehidupan orang-orang barat yang notabene nya ngikut hawa nafsu, otomatis segala akan dibeli.

Kira-kira siapakah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi sekarang ini? Tentunya pemimpinlah yang harusnya bertanggung jawab atas semua ini. Pemimpin merupakan atasan tertinggi yang mengontrol sekaligus memantau apa yang ada dibawahnya, maka patutlah billa dikatakan seluruh problematika yang menimpa masyarakat merupakan tanggung jawab pemimpin. Namun alih-alih turun tangan menyelesaikan langsung, pemimpin kita justru mengirim tindakan lewat suruhannya. Hal ini menunjukkan bahwa kepedulian pemimpin kepada rakyat sekarang sangat minim. Rasa tanggung jawabnya telah sirna dari pacuannya, kepedulian dan perhatian pemimpin Indonesia lebih meluncur pada para pemuka investor. Sedangkan rakyatnya harus merangkak terlebih dahulu demi mendapatkan bantuan dari atasan.

Jadi, akar masalah dari kasus bunuh diri yang bertebaran di negeri ini ada pada pemimpin yang kurang bertanggung jawab atas rakyatnya. Pemikirannya hanya menjalur ke materi dan materi, matanya dibutakan oleh kekayaan, hatinya dimatikan, sebab tidak lagi mengingat siapa yang telah menciptakan dirinya. Pikirannya dibodohkan oleh sistem Kapitalis.

Maka pemikiran merusak seperti ini haruslah segera dihilangkan dan ganti dengan pemikiran yang cemerlang lagi memperbaiki. Pemikiran yang cemerlang semacam ini hanya terdapat pada Islam kaffah. Sebab hanya Islam yang dapat menyelesaikan problematika kehidupan. Peradaban Islam memberi perlindungan atas nyawa manusia, dan pastinya akan menjamin kebutuhan hidup rakyatnya.

Terkait kesejahteraan dalam pandangan Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam hal ini, baik kesejahteraan mahasiswa maupun pelajar dibawahnya. Contohnya dengan menyediakan sarana pendidikan yang memadai untuk masyarakat. Baik kaya maupun miskin bisa tersentuh pendidikan dan mendapatkan pelajaran yang sama dengan optimal. Jika dana untuk pendidikan tidak mampu ditanggung, maka tanggung jawab pendanaan akan diambil sepenuhnya oleh negara.

Sungguh luar biasa sekali, mekanisme hukum Islam dalam menjamin keterpenuhan kebutuhan hidup masyarakat, khususnya pendidikan. Jadi, akar kesejahteraan dan kesengsaraan umat itu berasal dari sebuah aturan atau sistem yang berkuasa didalamnya. Apabila aturannya salah, maka rusaklah masyarakat didalamnya. Sebaliknya bila aturannya benar, maka maju dan baiklah masyarakat. Aturan benar yang dimaksud disini adalah aturan yang sesuai dengan perintah Allah SWT. Jika kehidupan sudah mampu ditumpukan pada aturan-Nya, InsyaAllah dunia akan berada dalam kedamaian.

Wallahu a’lam bi ash-showwab


Share this article via

82 Shares

0 Comment