| 346 Views
Gencatan Senjata Solusi Hakiki untuk Palestina, Benarkah?
Oleh : Irmawati
Hari demi hari berlalu. Penjajahan Israel terhadap Palestina pun tak kunjung berakhir. Korban jiwa dan kerusakan semakin meluas. Berbagai upaya terus dilakukan umat, mulai dari kecaman hingga pemboikotan produk yang terafiliasi langsung dengan Israel. Bahkan, dengan membuat kesepakatan untuk gencatan senjata. Akan tetapi, zionis masih saja melakukan serangan dan menewaskan rakyat Palestina.
Dilansir dalam BBC News Indonesia (20/01/2025), bahwa dalam gencatan senjata sebagai bagian tahap pertama dilakukan pembebasan tahanan warga Palestina dan Israel. Menjelang pengumuman singkat tentang kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Banyak warga Gaza merasakan sedikit harapan dan kelegaan. Tetapi suka cita itu tidak berlangsung lama. Karena zionis masih saja menjatuhkan serangan hingga menewaskan rakyat di Gaza sekitar 82 orang dalam hitungan jam.
Tentu apa yang dilakukan zionis pasca beberapa jam gencatan senjata menunjukan bahwa tak mampu merubah apapun. Sama halnya dengan genjatan senjata yang pernah dilakukan sebelumnya tepat pada 2023 lalu. Apalagi sifat asli Yahudi yang tidak bisa dipercaya. Sehingga, patut dipertanyakan. Mungkinkah mampu memberikan perubahan yang nyata kepada Palestina ?
Apalagi gencatan senjata yang dilakukan bukan karena tekananTrump kepada Netanyahu. Namun karena Zionis tidak sanggup mematahkan rakyat Gaza. Meski rakyat Gaza menderita kelaparan, di bunuh, banyak pemimpin pejuang syahid. Mereka tetap teguh dan mereka tetap mempertahankan tanahnya telah menggentarkan Zionis.
Adapun gencatan senjata yang dilakukan adalah hanya bentuk jeda dari serangan. Bukan pembebasan secara total dari penjajahan. Meski dengan diplomasi, resolusi internasional, atau gencatan senjata mudah saja dilanggar. Sehingga perjanjian ini hanya menjadi retorika politik tanpa implementasi nyata yang tidak tercapai.
Ditambah lagi lembaga internasional atau negara- negara besar cenderung abai terhadap pelanggaran ini. Mereka hanya melakukan kecaman semata. Disisi lain Resolusi-resolusi yang dikeluarkan sering kali tidak memiliki kekuatan untuk menekan Israel, sehingga kekerasan terhadap Palestina terus berlanjut. Bahkan, dalam beberapa kasus, negara-negara besar justru mendukung Israel melalui bantuan militer atau diplomatik, yang semakin memperburuk situasi di lapangan.
Realita ini menunjukkan bahwa gencatan senjata hanyalah solusi sementara, yang tidak mampu menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Penjajahan atas bumi Palestina akan terus dirasakan masyarakat Gaza selama belenggu sistem sekuler kapitalisme masih bercokol.
Sistem sekuler kapitalisme menjadi penyebab utama kekejaman terus dilancarkan kepada rakyat Gaza. Apalagi ikatan nasionalisme yang menjadikan penguasa negeri-negeri Islam enggan membantu masyarakat Gaza.
Meskipun gencatan senjata ini mungkin memberikan jeda. namun perjuangan untuk kebebasan Palestina tidak akan pernah berhenti. Palestina, tanah air yang telah lama terjajah, membutuhkan lebih dari sekadar gencatan senjata. Mereka membutuhkan pembebasan sejati. Hanya dengan jihadlah kemerdekaan hakiki Palestina bisa benar-benar terwujud.
Dengan menyatukan kaum muslim dan melepas batu sandungan berupa sekat antarnegara. Jika umat Islam bersatu, maka tidak ada musuh yang mampu mengalahkan kekuatan kaum muslimin. Persatuan tersebut tentunya membutuhkan pula seorang pemimpin pemberani yang akan memimpin kaum muslim mengerahkan seluruh kekuatan tentaranya melumpuhkan kebengisan zionis Israel.
Kekuatan fisik hanya akan menang jika dilawan dengan kekuatan fisik. Pemimpin tersebut ialah seorang khalifah yang akan mengerahkan seluruh tentara muslim untuk melakukan jihad.
Sebagaimana tercatat dalam sejarah, umat Islam mampu membebaskan Baitul Maqdis di masa lalu melalui kekuatan jihad yang dipimpin oleh pemimpin yang berpegang teguh pada Islam.
Salah satu contohnya adalah keberhasilan Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Yerusalem dari penjajahan pasukan Salib. Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari persatuan umat Islam di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh.
Saat ini, umat Islam membutuhkan hal yang sama. Persatuan umat Islam di seluruh dunia adalah kunci untuk melindungi Palestina dari penjajahan dan penderitaan yang berkepanjangan. Dengan persatuan ini, jihad untuk membebaskan Palestina bukan lagi sekadar seruan. Tetapi langkah nyata yang dilakukan secara terorganisir dan terencana.
Persatuan tersebut juga akan memastikan bahwa generasi Palestina dapat mengenyam pendidikan, hidup dalam keamanan, dan tumbuh menjadi generasi yang berkepribadian Islam.
Akan tetapi hal ini dibutuhkan upaya persatuan dan kesatuan umat dengan Islam. Kaum muslim harus segera menyadari, akibat tersekat-sekat dengan garis nasionalisme, umat tercerai berai. Padahal, Rasulullah saw. menyebut umat Islam bagaikan satu tubuh melalui Sabdanya,
Rasulullah Saw bersabda: ‘Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685)
Karena itu umat harus menyakini kemenangan adalah milik umat Islam dan pujian hanya milik Allah. Kemenangan akan datang atas pertolongan Allah. Oleh karena itu jalan perjuangan wajib sesuai tuntunan Allah, tidak menyerahkan urusan pada musuh-musuh Allah.
Sudah saatnya umat terus berjuang untuk mewujudkan solusi hakiki tersebut. Dengan terus menggelorakan jihad dan Khilafah untuk membebaskan tanah Palestina dari Yahudi. Bukan gencatan senjata maupun solusi dua negara.Dengan adanya junnah, maka bukan hanya Palestina yang dilindungi tapi seluruh negeri-negeri Muslim.
Palestina tanah kharajiyyah. Sampai kapan pun akan tetap menjadi milik kaum muslim. Wallahu A'lam