| 70 Views
Bullying Menggejala di Berbagai Daerah, Bukti Sebagai Problem Sistemik dalam Pendidikan
Oleh: Muliyanum
Baru baru ini media meliris kasus mengenai bullying seperti yang di kutip pada beritasatu.com, 8 November 2025 Seorang santri di Aceh Besar ditetapkan sebagai tersangka kasus terbakarnya asrama pondok pesantren tempat dia belajar. Sang santri disebut sengaja membakar asrama lantaran sakit hati karena kerap menjadi korban bullying oleh rekan-rekannya.
Kemudian kumparan.com Pada Jumat, 31 Oktober 2025, asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah pimpinan Tgk. Masrul Aidi—di Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, terbakar.
Polisi mengungkapkan bahwa ternyata pembakarnya adalah salah satu santri yang masih di bawah umur.
“Pelaku mengaku membakar gedung asrama karena sering mengalami bullying dari beberapa temannya,” kata Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono, saat konferensi pers di Meuligoe Rastra Sewakottama, Kamis (6/11).
Santri tersebut disebut tertekan secara mental hingga berniat membakar gedung agar barang-barang milik temannya yang diduga sering mengganggunya ikut habis terbakar.
Selanjutnya yang di liris media kumparan.com 7 November 2025 Seorang siswa SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sena, menceritakan detik-detik ledakan saat terjadi. Dia menduga pelaku adalah siswa kelas 12 yang merupakan korban bullying
Astaghfirullah ini bukti kegagalan sistem saat ini yang mencederai pemikiran peserta didik. Bullying menggejala di berbagai daerah, bukti sebagai problem sistemik dalam pendidikan.
Sistem sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) menghantarkan anak didik saat ini pada nestapa yang berkepanjangan tidak tahu arah tujuan yang hak. Pengaruh sosial media memperparah pelaku aksi bullying, bahkan bullying dijadikan candaan. Hal ini menunjukkan telah terjadi krisis adab dan hilangnya fungsi pendidikan. Di tambah lagi sosial media menjadi rujukan korban bullying untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa orang lain sebagai pelampiasan kemarahan atau dendam. Sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang berfokus pada materi telah gagal dalam membentuk kepribadian Islam.
Pendidikan hanya mencetak kepala pintar, bukan jiwa yang kuat. Agama diajarkan sebatas teori, bukan pondasi hidup.
Padahal Rasulullah Saw bersabda,
“Sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad itu. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati anak-anak kita sedang rusak bukan karena mereka jahat, tapi karena sistemnya gagal memberi arah.
Barat menetapkan usia dewasa 18 tahun. Jadi, walaupun sudah balig dan punya tanggung jawab syariat, anak-anak kita masih dianggap “belum siap”. Akhirnya mereka tumbuh dalam kebingungan identitas, secara biologis sudah siap, tapi secara sosial dan spiritual dibiarkan gamang.
Islam justru sebaliknya, begitu anak balig, ia diarahkan menuju aqil, yaitu kedewasaan berpikir berdasarkan akidah. Itulah kenapa dalam Islam, pendidikan anak sebelum balig harus fokus mematangkan pola pikir dan pola sikap Islamnya.
Sekulerisme gagal melakukan itu. Ia hanya fokus pada kompetensi akademik, sementara sisi ruhiyah dibiarkan kering.
Tujuan pendidikan dalam Islam adalah membentuk kepribadian Islam. Padahal Islam sudah menyediakan solusi yang sempurna.
Islam membangun sistem pendidikan dengan akidah sebagai asas. Setiap pelajaran bahkan matematika dan sains dihubungkan dengan iman kepada Allah.
Tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak tenaga kerja, tapi membentuk kepribadian Islam (syakhshiyyah Islamiyyah). Anak-anak diajari mengenal siapa dirinya, untuk apa dia hidup, dan kepada siapa dia akan kembali.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an surah Adz-Dzariyat ayat 56,
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Artinya, sejak kecil anak harus paham bahwa hidup ini bukan untuk mengejar nilai, uang, atau popularitas, tapi untuk meraih ridha Allah. Kalau pondasinya ini yang dibangun, jangankan nilai jelek, ditinggal teman pun dia tidak akan kehilangan arah. Karena dia tahu bahwa yang paling penting bukan how people see me, tapi how Allah values me.
Proses pendidikan dilakukan dengan cara pembinaan intensif, membentuk pola pikir dan pola sikap islami, tidak hanya fokus pada nilai materi, tapi juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah.
Khilafah bahkan menata kurikulumnya dengan dua pilar utama, yaitu penguatan kepribadian Islami dan penguasaan ilmu kehidupan. Anak bukan cuma paham rumus, tapi juga punya kekuatan akidah yang membuatnya tangguh menghadapi ujian hidup. Inilah yang dulu melahirkan generasi luar biasa seperti Muhammad al-Fatih, yang di usia 21 tahun sudah menaklukkan Konstantinopel. Mereka bukan generasi “fragile”, tapi generasi strong with iman. Kurikulum yang di terapkan harus berbasis aqidah Islam, menjadikan adab sebagai dasar pendidikan
Islam memandang masalah ini dari akarnya, selama manusia jauh dari Allah,bullying akan terus meningkat, Karena hati yang kosong dari iman tak akan pernah tenang, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Negara khilafah menjamin kebutuhan pokok rakyatnya, seperti sandang, pangan, papan. Sehingga orang tua tidak stres karena ekonomi. Hubungan keluarga harmonis karena hukum Islam menjaga peran ayah, ibu, dan anak secara proporsional. Tidak ada “broken home” karena perceraian sepele. Dan yang paling penting adalah arah hidup jelas. Semua diarahkan menuju ketundukan pada Allah.
Negara (khilafah) wajib menjadi penjamin utama pendidikan, pembinaan moral umat, dan perlindungan generasi dari kezaliman sosial.
Wallahua'lambishawab