| 66 Views
Bahaya Lemahnya Generasi Akibat Konten Merusak di Ruang Digital
ilustrasi: Shutterstock
Oleh: Ummu Syathir
Perkembangan teknologi dan industri media terjadi begitu masif mendominasi kehidupan remaja saat ini, berbagai informasi dan tayangan tidak dapat dibendung, media massa pun mengalami konvergensi yang menggabungkan computing, communication dan content,tidak dipungkiri kemajuan teknologi digital dapat mendukung kemajuan suatu peradaaban namun disisi lain juga dapat menimbulkan berbagai dampak negarif terlebih ketika Negara abai dalam memfilter hal negtif tersebut, industri media memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap mental dan pikiran pada manusia khususnya generasi muda. Generasi yang terlalu lama berinteraksi dengan dunia maya akan berdampak sulitnya dalam bersosialisasi, bahkan mengalami brain rot akibat banyaknya browsing konten-konten remeh, kekerasan, cyber bullying, game online, judi online hingga pornografi yang berdampak negatif pada psikoligis dan mengarungi kemampuan otak berfikir kreatif. Anak dan remaja merupakan usia dengan pengguna platform terbesar sebagaimana yang diberitakan media online https://selular.id, 22/11/2025: “Lebih dari 80 persen anak berusia 5-17 tahun di Indonesia kini aktif menggunakan internet, menurut data terbaru dari Komdigi. Fenomena ini terjadi bersamaan dengan YouTube yang menduduki peringkat kedua sebagai situs paling banyak dikunjungi di Indonesia pada Oktober 2025, berdasarkan laporan Similarweb”. Padahal masa remaja merupakan fase yang sangat penting dalam mengokohkan fondasi untuk meraih kehidupan yang cemerlang kedepannya bukan saja bagi diri remaja namun bagi kemajuan peradaban umat seluruhnya, terlebih pada tahun 2040 Indonesia akan menghadapi bonus demografi dimana jumlah usia produktif yang diisi oleh remaja sekarang akan lebih banyak jumlahnya. Jika kondisi anak dan remaja saat ini kebanyakan mengalami brain rot maka bonus demografi akan menjadi bencana bagi negeri.
Sekularisme Penyebab Utama Kerusakan Generasi
Menjamurnya konten negatif yang merusak pemikiran psikologis anak dan remaja merupakan akibat dari kebebasan berekspresi dan memperoleh cuan dengan cara instan yang memberikan kebebasan bagi siapa saja untuk menayangkan apa saja selama dapat menghasilkan cuan. Seluruh media terhubung dengan pemeilik modal, hampir semua platform media sosial yang paling ramai dikunjungi oleh anak dan remaja berasal dari Negara-negara sekuler kapitalis, media menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para kapitalis, ada satu prinsip dasar yang menyatakan bahwa siapa yang menguasai media, dia akan menguasai dunia, itulah mengapa seiring dengan penguasaan dunia oleh para kapitalis, mereka juga menguasai media massa dunia. Selain menjadikan Negeri-negeri muslim sebagai pasar, mereka juga semakin menanamkan ide-ide sekuler dan liberal yang menjadikan kaum muslim tetap berada dibawah pengarunh Negara Sekuler yang dimotori oleh Amerika, pengarusan ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi sangat berpotensi mengikis keislaman kaum muslim terutama kaum pemuda, platform over the top global seperti Facebook, Path, WhatsApp, Twitter dan banyak lainnya terang-terangan mendukung LGBT, memblokir penyeru islam kaffah dan menjadi tuan rumah bagi grup-grup yang secara terbuka memusuhi umat Islam, seperti ‘Death To Islam Undercover’ di Amerika, situs-situs yang mengarahkan kebangkitan pemikiran kaum muslim akan dibanned, bukti bahwa media adalah alat bagi Negara sekuler untuk bisa mendudukkan pesaingnya dan mencegah kebangkitannya yakni islam. Sehingga kaum muslim terutama kaum muda benar-benar kehilangan gambaran tentang bagaimana jati diri seorang muslim karena terlalu lamanya berinteraksi dengan gambaran yang rusak. dan terus menerus hidup dalam kubangan sekuler liberal sebab pemikiran mereka telah dibajak oleh paham-paham sesat tersebut.
Dan masih banyak kerusakan tatanan kehidupan yang mengancam generasi muda, ini tentu tidak lepas dari sistem sekuler kapitalisme demokrasi yang mendewakan prinsip kebebasan. Adanya jaminan kebebasan individu untuk melakukan sesuatu menjadikan segala keputusan personal mereka sebagai privasi yang tidak perlu dipermasalahkan dapat menimbulkan tindakan dan komunikasi destruktif terlebih pada anak dan remaja yang dari sisi pemikirannya belum matang terlebih mereka yang lahir dari lingkungan sosial dan keluarga dengan kekentalan nilai-nilai liberal. Sehingga saat ini kita dapati banyaknya kasus-kasus yang terjadi yang dilakoni oleh anak dan remaja yang diakibatkan pengaruh buruk dari konten-konten receh.
Oleh karena itu Negara harus hadir untuk bisa mencegah pengarusan ide-ide sekuler liberal melalui media digital yang sangat merusak pola pikir dan sikap generasi, tidak cukup hanya dengan aturan yang bersifat parsial yang mengikuti tren global namun disisi lain masih membiarkan faham-paham sekuler liberal berseliweran melalui platform digital media barat. Padahal jika ada kemauan politik dari pemerintah maka platform yang menayangkan hal-hal negatif dapat difilter tidak boleh bebas masuk kedalam negeri sebagaimana yang dilakukan Tiongkok yang memfilter beberapa platform yang dianggap tidak sesuai dengan kepentingan Negaranya seperti facebook, X, Instagram, Google, Youtube dan lainnya. Dan negara dapat menyediakan platform yang bersifat mendidik demi terwujudnya generasi yang dapat memberikn sumbangsih terbaik dalam kemajuan peradaban.
Hanya dengan Islam Kegemilangan Indonesia Emas Dapat Terwujud
Setiap media menginformasikan sesuatu berdasarkan kehendak pengelolalnya, memiliki sudut pandang khas, sehingga media digital yang dikuasi oleh Negara-negara penjajah akan selalu mengarahkan opini dan tayangan sesuai dengan visi mereka yaitu penyebaran ide-ide kufurnya untuk menguasai kaum muslim dan tidak memberikan ruang sedikitpun kebangkitan islam. Ini merupakan agenda besar Negara-negara adidaya untuk menjajah kaum muslimin secara pemikiran, ekonomi dan budaya yang menggantikan perang fisik. Ketika pemikiran ini telah diadopsi maka dengan mudah kaum muslim ditundukkan sesuai keinginan kafir penjajah dan dicegah kebangkitannya. Oleh karena itu, agenda besar yang menyerang kaum muslim ini harus dilawan dengan Negara adidaya pula yakni khilafah islam yang menerapkan islam secara kaffah, melindungi dan mencegah berbagai serangan baik fisik maupun pemikiran pemikiran yang merusak kaum muslimin.
”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.”
Islam memandang kehidupan dengan tolok ukur aqidah Islam. Tidak ada yang lebih tinggi dari Iman kepada Allah Swt. Dengan sudut pandang ini maka tolok ukur perbuatan adalah ketentuan Allah dengan batasan halal-haram sesuai syariah-Nya. Kebahagian kaum Muslim terletak pada ketaatannya terhadap syariah-Nya secara kaaffah. Kaum muslimin terkhusus pemuda diarahkan untuk memahmi bahwa tidak boleh mengambil ajaran selain islam jika ingin bangkit dan selamat
“Islam itu tinggi, dan tidak ada yang akan dapat mengatasi (mengungguli) ketinggiannya (agama Allah ini).” (HR. Daruquthni).
Dengan membaca sirah Rasulullah Saw kita akan dapati disekeliling beliau ada banyak pemuda yang berkarya demi kemajuan islam, zaid bin haritsah menjadi penulis dan penerjemah Rasulullah Saw yang dengan cepat memperlajari banyak bahasa demi mencegah intrik-intrik musuh-musuh islam, Mushab bin’Umair duta pertama dakwah islam ke Medina berusi 22 tahun, ali Bin Abi Thalib berusia 8 tahun menjadi pemuda pertama masuk islam. Pada masa kekhilafahan ‘Abasiyah kita mengenal Shalahuddian al-Ayyubi yang menaklukkan Baitul Maqdis. Pada masa Utsmani ada Sultan Muhammad al-Fatih, yang menaklukkan Konstantinopel. Dari sosok-sosok itu kita memahami bahwa pemuda Muslim adalah pionir perubahan, pembela agama, pemimpin penakluk dan para ulama terkemuka. Mereka terbina dengan akidah dan syariah Islam. Pemikiran, perasaan dan perilaku mereka sesuai dengan ketentuan Islam. Mereka dibina oleh Rasulullah saw. untuk memahami Islam; menjalankan, mendakwahkan dan membela Islam.
Oleh karena itu dengan ketiadaan Negara islam yang manaungi kaum muslimin, kita harus sadar dan membentengi diri dengan pemikiran islam agar terbentuk pola pikir dan pola sikap islami, dan terus mendakwahkan islam ketengah-tengah ummat, mencabut pemikiran rusak sekuler liberal dari benak ummat terkhusus pemuda dan mengisinya dengan pemahaman islam sehingga mereka sadar akan kedudukannya sebagai hamba Allah Swt, selain itu yang lebih penting adalah menyeru kaum muslimin diseluruh dunia untuk memperjuangkan sebuah institusi yang menerapkan islam secara kaffah, yang dengannya dapat menjadi perisai yang menghalangi pemikiran-pemikiran yang merusak.