| 100 Views
Bahaya Gadget Bagi Kesehatan Mental Generasi
Ilustrasi kecanduan gadget. - netmag.pk
Oleh: Fathimatuzzahra H.
Dilansir dari Ekspose.id. (12-11-2025) Sob, tahu tidak ada lebih dari seratus siswa dari berbagai jenjang pendidikan terdeteksi mengalami depresi ringan, sob. Dengan penyebab utama yang mencuat adalah ketergantungan terhadap gadget.
Temuan ini juga merupakan hasil sementara dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Ciamis bersama 37 puskesmas sejak bulan Agustus tahun 2025, sob.
Terus, program tersebut juga menargetkan pemeriksaan bagi lebih dari 203 ribu peserta didik dari tingkat SD/MI, SMP/MTS SMA/SMK/Aliyah di seluruh wilayah kabupaten.
Menurut kepala bidang kesehatan masyarakat Dinkes Ciamis, dr. Hj. Eni Rohaeni, menyampaikan bahwa hasil skrining yang sementara menunjukkan tentang adanya indikasi depresi ringan pada lebih dari 100 siswa, sob.
Fenomena ini juga dinilai sebagai sinyal yang penting bahwa masalah kesehatan mental pada anak dan remaja sudah mulai muncul dilingkungan pendidikan. Banyak dari kalangan mereka yang mulai mengalami gangguan tidur, mudah cemas, sulit untuk fokus belajar, hingga pada akhirnya menarik diri dari lingkungan sosial.
Mirisnya dari total 165.000 orang siswa yang telah diperiksa hingga pertengahan Oktober 2025, ditemukan 2.012 orang siswa mengalami gangguan pada penglihatan dan lebih dari 100 orang siswa yang terindikasi depresi ringan. Untuk kasus penglihatan, lebih dari 1.000 siswa sudah di intervensi melalui pemanasan kacamata gratis dan juga pemenuhan gizi yang cukup juga mendukung pada kesehatan mata mereka. Sob langkah ini juga melibatkan konseling, pembinaan perilaku sehat digital. Serta memberikan edukasi untuk pola hidup seimbang.
Sob, pelajaran untuk kita harus hati-hati dalam penggunaan gadget (handphone). Kalau tidak bijak, bisa menjadi ancaman buat diri kita sendiri. Sebagaimana kasus di atas. Melihat fenomena kasus ketergantungan pada gadget di kalangan pelajar bukanlah hal baru. Tapi temuan CKG di Ciamis ini memperlihatkan bahwa dampaknya kini mulai terukur secara medis, ya sob.
Sudah banyak dari kalangan siswa yang menggunakan gadget bukan hanya untuk belajar daring melainkan juga untuk bermain game, menonton video, atau bersosialisasi di media sosial tanpa mengenal batas waktu. Kondisi tersebut membuat pelajar lebih rentan mengalami stres, gangguan konsentrasi hingga depresi ringan.
Sob, tentu kita tidak mau masa muda kita harus mengalami kasus gangguan mental dan lain-lain dari pengaruh gadget. Atau mungkin kita hindari saja pemakaian gadget sebagai solusi? Tentu tidak ya sob, karena gadget termasuk kemajuan teknologi yang menjadi sebuah keniscayaan dan keberadaan gadget ini adalah sebagai hasil dari kemajuan teknologi, yang kita nikmati agar kita tidak ketinggalan informasi. Maka tidak bisa kita lepas dari gadget. Tapi, kita sendiri harus pintar untuk penggunaannya.
Gadget bisa di ibaratkan sebagai pisau bermata dua yang bisa berdampak positif dan negatif, tergantung pada konten yang di aksesnya. Jika kontennya positif, insyaallah berdampak positif. Sebaliknya jika negatif, akan berdampak negatif juga. Salah satu dampaknya adalah yang terjadi pada kesehatan mental pada remaja.
Kerusakan mental generasi tidak lain terlahir dari sistem sekularisme liberalis, yang melahirkan pemikiran memisahkan agama dari kehidupan, di topang dengan liberal yang memiliki ide kebebasan. Sehingga dari pola sikap dan pikirnya membolehkan perilaku apa pun dengan bebas tanpa adanya aturan yang di dasari oleh agama, termasuk dalam berkomunikasi via barang elektronik. Alhasil, arus informasi negatif yang disuguhkan gadget pun mendominasi para pelajar, juga berpengaruh pada tumbuh kembang sikap, perilaku generasi. Bahkan mengancam kesehatan mental mereka.
Di era yang sekarang sudah serba digital ini, untuk tidak bermain gadget tentu tidak bisa. Tapi sebagai orang tua harus ada untuk memberi pemahaman kepada anak-anak untuk bijak dalam menggunakan gadget. Tidak cuku hanya peran orang tua saja, tapi yang paling utama harus ada peran negara untuk mengatur penggunaan gadget untuk ha yang positif. Terutama dalam mengatur konten-konten atau situs yang di nilai negatif, harus di blokir. Apakah negara dalam sistem sekuler akan melakukannya?
Sob, selama negara membiarkan konten dan situs yang negatif terus bercokol, secara tidak langsung negara perlahan membunuh karakter generasi yang lahir untuk masa depan islam. Karena banyak mental generasi rusak akibat tontonan yang negatif dari gadget. Jadi solusi hakiki untuk kasus gangguan mental dari gadget, tidak lain hanya dengan kembali pada Islam kaffah (menyeluruh) yang mengatur segala aspek kehidupan manusia. Dan sebagai wujud “maqosid syari hifdzu “ akal dan “hifdzu nafs”. Sistem Islam itu senantiasa memiliki aturan untuk menjaga umatnya agar mereka terhindar dari kerusakan akal dan jiwanya, sob.
Dalam sistem Islam tidak ada yang namanya pembiaran kemajuan teknologi yang nantinya bakal merusak akal dan jiwa umat, terutama pada generasi mudanya, sob. Tapi teknologi di gunakan dengan sebijak mungkin untuk kepentingan dakwah, untuk menyeru umat menuju ke jalan Islam, dan meneruskan perjuangan agar tegak kembali kehidupan Islam kaffah sebagaimana yang pernah d terapkan Rasulullah SAW.
Daulah islam akan berupaya menghindari indikasi pengaruh buruk dari kemajuan teknologi. Teknologi di gunakan hanya untuk kemaslahatan. Pun seorang khalifah dalam daulah islam akan bersinergi dengan umat, dan membina umat dari usia dini hingga orang dewasa dan orang tua dengan pembinaan yang akan selalu berbasis akidah Islam. Selain itu, negara akan menyediakan konten-konten dan fitur yang diakses umat adalah yang mencerdaskan secara duniawi dan ukhrowi (akhirat). Sehingga hal tersebut, akan melahirkan hal positif, seperti menambah keimanan mereka. Tentunya perealisasiannya akan berpengaruh pada kesehatan mental generasi. Karena Islam akan membuat jaringan, aplikasi, dan perangkat lunak lainnya. Jadi komunikasi elektronik tidak jadi monopoli perusahaan milik asing sob.
Kesimpulannya, maka dalam islam, jika seorang muslim hendak berbicara atau pun melakukan sesuatu perbuatan, hendaknya ia berpikir terlebih dahulu. Sebagaimana dalam hadits :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari).
Hadits di atas memperjelas bahwa apa yang kita mau lakukan, harus senantiasa berpikir dan tahu konsekuensinya. Hiduplah sesuai dengan aturan islam, dan menjadi bagian dalam memperjuangkan Islam kaffah, sampai ketika Daulah Khilafah Rasyidah Islamiyyah tegak kembali di bumi Allah. Karena satu-satunya solusi dari permasalahan umat hanya dengan penerapan islam kaffah dalam naungan khilafah. Dengan demikian mekanisme islam akan mampu melahirkan generasi memiliki pola sikap dan pikir islami, sehingga akan meminimalisir kerusakan mental pada generasi, bahkan tidak ada.
Wallahu’alah Bishawab