| 10 Views

Upah Layak Masih Jadi Mimpi: Menakar Ulang Arah Perjuangan Buruh di Tengah Cengkeraman Kapitalisme

Oleh: Tuni Anggraini

Tiap 1 Mei, buruh se-Indonesia turun ke jalan. May Day jadi panggung untuk teriakan yang sama dari tahun ke tahun: upah layak, hapus sistem kontrak, jaminan sosial, dan kebijakan yang lebih berpihak. Ironisnya, di saat tuntutan itu diteriakkan, kondisi buruh justru makin terjepit. PHK massal di mana-mana, pengangguran melonjak.

Data BPS mencatat akhir 2025 ada 7,46 juta orang menganggur. Sebanyak 8.389 pekerja kena PHK. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini realitas pahit di lapangan.

Namun, yang perlu direnungkan, apakah sekian tahun perjuangan May Day makin mendekatkan buruh pada kesejahteraan yang diharapkan? Tampaknya jauh panggang dari api, karena setiap tahun selalu muncul tuntutan serupa. Alhasil, perlu untuk mengevaluasi perjuangan buruh selama ini. Apa yang harus diperjuangkan oleh buruh agar aspirasi mereka tidak menguap di tengah banyaknya peristiwa politik yang terjadi di dalam maupun luar negeri?

Akar Masalah: Sistem Kapitalisme yang Memisahkan Agama dari Kehidupan

Sistem ini menambah angka pengangguran dan negara lepas tangan untuk menangani pengangguran yang angkanya semakin bertambah. Sungguh kondisi ini sangat memprihatinkan sebab angka pengangguran merebak seperti jamur di musim hujan. Di saat rakyat butuh makan, biaya hidup bertambah sangat mahal, belum lagi kesehatan dan pendidikan yang biayanya cukup tinggi. Akhirnya, mereka rela melakukan berbagai cara demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, tak peduli haram ataupun halal, yang penting kebutuhan bisa terpenuhi.

Siapa yang seharusnya disalahkan? Sekuler-kapitalis yang masih diterapkan dan dijunjung tinggi di negeri ini yang memiliki andil akibat kesengsaraan ini. Akibatnya, pemerintah abai tak peduli dengan penderitaan rakyat, terutama kaum buruh. Mana yang katanya Indonesia kaya? Adanya tambang, sawit, nikel, ibarat tikus mati di lumbung padi. Itu yang sekarang dirasakan oleh masyarakat.

Belum lagi kesehatan dan pendidikan dibebankan ke upah dan tidak dijamin negara. Sampai kapan hidup buruh bisa sejahtera ketika sistem yang dipakai masih sistem sekuler buatan manusia? Selama sistem ini terus diterapkan, maka selama itu pula kaum buruh tidak akan bisa sejahtera.

Padahal, Islam sudah menawarkan segudang aturan yang datangnya dari Allah yang bisa menyejahterakan dan membawa kemakmuran untuk masyarakat. Islam juga menjamin kebutuhan bahan pokok dan pekerjaan yang layak, termasuk untuk buruh. Bukan cuma menyejahterakan, tapi juga memfasilitasi kebutuhan sehari-hari.

Negara Wajib Menjamin Kebutuhan Pokok

Rasulullah saw. bersabda:

“Imam/khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.”
(HR Bukhari)

Pangan, sandang, dan papan wajib dijamin. Negara akan menjamin tidak ada buruh dengan upah yang tidak mencukupi. Serta negara akan menjamin kebutuhan seperti pendidikan, kebutuhan pokok, kesehatan, dan kebutuhan vital lainnya dengan harga yang terjangkau, bahkan gratis.

SDA Milik Umum, Haram Dikuasai Swasta

“Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api.”
(HR Abu Dawud dan Ahmad)

Tambang, hutan, dan laut hasilnya untuk rakyat, bukan oligarki.

“Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.”
(HR Ibnu Majah)

Upah sesuai nilai manfaat kerja dan tidak disamaratakan dengan terikat UMR.

Haramkan Riba

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS Al-Baqarah: 275)

Ekonomi riil saja: pertanian, industri, dan dagang. Tidak ada bubble economy yang membuat ketimpangan ekonomi.

Selama kapitalisme masih dipakai, maka buruh akan terus jadi korban. Perjuangan buruh harus naik level: dari menuntut upah ke menuntut ganti sistem dengan syariat Islam kaffah.

Allahu a’lam bishawab.


Share this article via

4 Shares

0 Comment