| 423 Views
Lonely in The Crowd: Realitas Semu dan Generasi yang Keliru
Oleh: Haifa Manar
Di era digital ini, telah muncul fenomena perasaan sepi tatkala sedang di tengah keramaian. Isu ini menjadi hal yang sering diungkapkan beberapa orang di dunia maya dan sekarang menjadi persoalan serius di masyarakat. Ada perasaan "terhubung" melalui media sosial yang ternyata tidak selalu sejalan dengan makna kedekatan atau kerekatan yang sesungguhnya. Sehingga banyak individu yang aktif di dunia maya, tetapi justru mereka semakin terasing dari interaksi sosial di dunia nyata.
Faktanya, dilansir dari detik.com, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah melakukan riset yang berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual" yang mengungkap teori hiperrealitas, bahwa representasi emosi yang dibentuk melalui media digital kerapkali dianggap lebih "nyata" daripada kenyataan itu sendiri. Demikian, kondisi ini telah menyebabkan dampak psikologis yang serius, di mana meningkatnya perasaan kesepian, perasaan tidak pernah cukup dan tidak aman, hingga masalah kesehatan mental yang terganggu.
Oleh karena itu, fenomena ini tidak hanya disebabkan oleh kurangnya literasi digital atau pun lemahnya manajemen waktu dalam penggunaan gawai. Karena akar persoalannya terletak pada sistem sekuler liberal yang mendominasi kehidupan masyarakat saat ini. Yang mana dalam sistem ini, media sosial bukan hanya sekadar sarana komunikasi. Namun, media sosial telah menjadi instrumen industri kapitalistik yang mengeksploitasi perhatian, emosi, dan waktu penggunanya untuk kepentingan bisnis. Serta menjadi komoditas untuk menukar kebahagiaan hakiki semata-mata demi validasi.
Tidak hanya sampai di situ saja, dampak yang ditimbulkan pun begitu luas daripada yang dikira. Akibatnya, interaksi sosial secara langsung semakin berkurang, bahkan dalam lingkungan keluarga—para anggota keluarga bukannya bercengkrama, mereka justru disibukkan dengan gawainya masing-masing. Lalu, ada banyak individu yang hidup dalam satu ruang nyata, tetapi mereka tidak hadir secara emosional dan saling berjauhan karena tenggelam dalam dunia digitalnya masing-masing. Masyarakat pun menjadi semakin asosial, dan tidak sedikit yang menjadi apatis.
Khususnya bagi generasi muda, dampak ini sangat serius. Di mana mereka yang seharusnya menjadi agen perubahan dan kontributor terbesar dalam menyelesaikan persoalan umat, mereka justru terjebak dalam kesepian palsu yang melemahkan daya juang. Kepedulian mereka terhadap masalah sosial pun semakin menurun, yang kemudian digantikan oleh keterasingan yang senyap di tengah riuhnya tekanan dunia maya.
Umat Muslim seringkali merasa bingung terhadap fenomena yang ikut andil memenjarakan mereka dalam realitas semu. Padahal, Islam memberikan solusi mendasar terhadap masalah ini. Dalam Islam, manusia tidak dipandang sebagai makhluk sosial saja, tetapi juga sebagai makhluk yang memiliki tanggung jawab terhadap Tuhannya dan masyarakat di sekitarnya. Untuk itu, identitas Islam harus menjadi fondasi krusial agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban dari arus sistem liberalisme sekuler.
Dalam hal ini, negara juga memiliki peran strategis dalam mengendalikan pemanfaatan teknologi digital agar tidak menjadi senjata makan tuan. Negara harus mengarahkan teknologi dengan jelas agar dengan maksimal digunakan untuk kemaslahatan umat, dan mendorong generasi muda agar menjadi produktif dalam menyelesaikan problematika umat, bukan sekadar menjadi alat industri kapitalistik. Sehingga generasi muda perlu difasilitasi oleh negara untuk mengembangkan potensi dan produktivitasnya, bukan malah tenggelam dalam ruang sunyi yang diciptakan secara organik oleh sistem ini.
Sehubungan dengan hal itu, fakta tentang adanya fenomena “lonely in the crowd” ini tidak dapat diabaikan begitu saja, dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan teknis seperti pembatasan screen time (waktu layar) atau hanya dengan peningkatan literasi digital. Karena yang sebenarnya dibutuhkan ialah perubahan mendasar dengan menjadikan Islam sebagai identitas generasi pemuda-pemudi saat ini, dan sistem kehidupan yang mengatur interaksi manusia secara komprehensif. Dengan cara itulah, masyarakat modern dan generasi muda dapat keluar dari keterasingan, serta mampu kembali membangun hubungan sosial yang nyata dan bermakna.
Wallahu a'lam bish-showab.