| 1 Views

Liga Champions 2026: Kenapa Klub Premier League Bisa “Jaya”, dan Mengapa Serie A Tak Lagi Segarang Era 90-an–Awal 2000-an?

CendekiaPos - Ada dua ingatan yang beradu di kepala pencinta bola ketika membahas Liga Champions sekarang:
yang pertama adalah era Premier League—klub Inggris datang dengan skuad tebal, tempo tinggi, dan uang yang seperti tak habis; yang kedua adalah nostalgia Serie A era 90-an hingga awal 2000-an, ketika rasanya final Eropa “wajar” dihuni klub Italia.

Tapi musim 2025/26 (yang di banyak obrolan disebut “Liga Champions 2026”) memperlihatkan satu hal: peta kekuatan Eropa memang berubah. Bukan sekadar soal taktik, tapi soal ekosistem—uang, stadion, TV, regulasi, dan kemampuan liga membangun “mesin kompetisi” yang tahan lama.

Liga Champions kini lebih panjang, lebih padat, dan lebih “mahal”

Sejak format baru UCL mulai 2024/25, setiap klub di fase liga dijamin bermain 8 pertandingan (bukan 6 seperti fase grup lama), dan total matchday kompetisi meningkat. Ini otomatis memperbesar pendapatan, tapi juga menuntut kedalaman skuad dan manajemen fisik yang lebih serius.

Di format baru ini, klub yang punya:

  • skuad tebal,

  • rotasi kuat,

  • dan daya beli untuk menambal cedera/penurunan performa,
    lebih mudah bertahan sampai jauh.

Dan di sinilah klub-klub Inggris punya “keunggulan struktur”.

 

Kenapa klub-klub Inggris bisa berjaya?

1) Uang TV Premier League: “bahan bakar” yang membuat semua lini kuat

Laporan UEFA (yang dikutip berbagai media) menegaskan fakta mencolok: kenaikan pendapatan TV klub Premier League selama 2014–2024 hampir setara dengan kenaikan gabungan 53 liga top Eropa lainnya. Artinya, bukan hanya klub besar Inggris yang kaya—klub menengah pun punya daya belanja yang “Eropa banget”.

UEFA juga mencatat total pendapatan Premier League sekitar €7,15 miliar (data 2023 dalam laporan finansial UEFA, diberitakan Reuters), jauh di atas liga besar lain.

Efeknya terasa di Liga Champions:

  • klub Inggris bisa membeli pemain cadangan dengan kualitas starter,

  • bisa mempertahankan bintang dari godaan luar,

  • bisa membangun “tim A” dan “tim B” yang sama-sama sanggup menang di Eropa.

2) Kekuatan finansial klub-klub elite makin “tegas” di era baru

Deloitte Football Money League 2026 juga menegaskan pendapatan klub-klub terbesar Eropa terus naik dan rekor baru tercipta—ini memberi gambaran bahwa kompetisi modern semakin ditentukan kemampuan finansial dan komersial.

3) Infrastruktur & matchday: stadion jadi mesin uang, bukan beban

Klub Inggris (dan beberapa liga lain) relatif lebih berhasil menjadikan stadion sebagai mesin pemasukan: tiket, hospitality, retail, museum, event. UEFA menyorot pentingnya gate receipts dan pendapatan hari pertandingan dalam laporan finansial klub Eropa.

Dengan pemasukan stabil, klub lebih berani investasi:

  • sport science,

  • analitik,

  • akademi,

  • kedalaman skuad,
    yang semuanya penting untuk kompetisi Eropa format baru.

 

Lalu kenapa Serie A berbeda jauh dari era 90-an dan awal 2000-an?

Kalau kita flashback: Serie A dulu adalah “pangung para raja”. Tahun 1990 saja, klub Italia menyapu tiga trofi Eropa (versi kompetisi kala itu) — sebuah gambaran dominasi era tersebut.
Banyak bintang terbaik dunia berkumpul di Italia, dan final Eropa sering terasa “bau Italia”.

Tapi kemudian mesin itu pelan-pelan kehilangan tenaga.

1) Skandal dan reputasi: Calciopoli meninggalkan luka panjang

Calciopoli 2006 bukan sekadar cerita hukum; dampaknya terasa ke reputasi dan ekonomi liga. Kajian di Emerald menyebut pendapatan Serie A musim 2006/07 turun sekitar 17% dibanding musim sebelumnya (dari €1,399 miliar ke €1,163 miliar).
Ini bukan satu-satunya faktor, tapi ia mempercepat retak: kepercayaan, sponsor, daya tarik, stabilitas.

2) TV rights Serie A tertinggal, dan kebocoran akibat pembajakan

Reuters mengutip pimpinan Serie A yang menyalahkan illegal streaming karena menggerus pendapatan, menyebut kerugian sekitar €300 juta dari TV revenue dalam setahun—uang yang seharusnya bisa dipakai untuk akademi dan pengembangan.

Reuters juga menulis Serie A pendapatan hak siar domestik sekitar €900 juta per tahun, jauh di bawah Premier League yang kira-kira “dua kali lipat”.
Ketika hak siar tertinggal, efek dominonya jelas: belanja pemain, gaji, fasilitas, scouting, semuanya kalah start.

3) Stadion dan fasilitas: modernisasi berjalan lambat

Ini keluhan klasik Italia. Banyak klub Serie A tidak menguasai/menyulap stadion menjadi aset bisnis modern secepat Inggris. Akibatnya, pemasukan matchday dan komersial sering tertinggal, dan daya tarik liga menurun dibanding liga yang “lebih siap jadi industri hiburan global”. (Reuters juga menyinggung kebutuhan modernisasi fasilitas dalam konteks masalah finansial dan daya saing).

4) Pergeseran “pasar bintang”

Dulu, pemain terbaik ingin ke Serie A. Sekarang, “magnet global” pindah: Premier League (dan beberapa klub super di liga lain) jadi tujuan utama karena:

  • gaji lebih kuat,

  • exposure global lebih besar,

  • dan proyek olahraga lebih stabil secara finansial.

Akibatnya, Serie A lebih sering menjadi:

  • tempat “membangun nama”, atau

  • tempat “kembali” saat karier turun,
    bukan selalu panggung utama prime years (walau tetap ada pengecualian).

 

Jadi, apa intinya?

Dominasi klub Inggris di Liga Champions era 2026 bukan sekadar karena pelatih hebat atau pemain bagus—tetapi karena ekosistem Premier League memberi bahan bakar: uang TV besar, pemasukan stadion kuat, dan kemampuan membangun skuad dalam-dalam untuk format UCL yang makin padat.

Sementara Serie A bukan kehilangan sejarahnya, tapi kehilangan beberapa “mesin” yang dulu membuatnya jadi raja:

  • reputasi dan momentum terganggu (Calciopoli dan dampaknya),

  • uang hak siar kalah jauh dan tergerus pembajakan,

  • modernisasi stadion dan industri liga berjalan lebih lambat.

Serie A masih bisa melahirkan kejutan dan tetap punya klub besar serta tradisi taktik yang kuat. Tapi untuk kembali ke aura “90-an”, ia butuh waktu—dan terutama butuh reformasi industri, bukan hanya pergantian pelatih.


Share this article via

0 Shares

0 Comment