| 12 Views

Krisis Energi dan Pendidikan yang Dikorbankan

Oleh: Sri Setyowati
Aliansi Penulis Rindu Islam

Akibat konflik di Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat–Zionis Yahudi membawa dampak serius pada beberapa negara hingga krisis energi karena pasokannya terhambat akibat ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi perlintasan utama distribusi energi dunia. Dampak yang sama juga dirasakan negeri ini hingga menimbulkan wacana dari pemerintah mulai April 2026 untuk menerapkan sistem pembelajaran online atau belajar daring. Ini merupakan sebagian dari upaya efisiensi energi nasional untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM). (radarbogor.com, 21/03/2026)

Melalui Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, pada akhirnya pemerintah membatalkan wacana belajar online atau belajar daring. (kompas.com, 26/03/2026)

Pembelajaran daring untuk penghematan BBM bukanlah solusi yang tepat. Hal ini akan mengakibatkan interaksi antara siswa dan guru menjadi terbatas hingga pemahaman materi ajar kurang maksimal yang mengakibatkan menurunnya kualitas pembelajaran. Selain itu, tidak semua siswa memiliki akses yang sama terhadap perangkat daring dan internet. Menjadi kontradiksi, di satu sisi menekan penggunaan BBM, di sisi lain pemakaian listrik dan internet membengkak.

Dalam beberapa kasus, sektor pendidikan selalu menjadi pihak yang dikorbankan. Seperti misalnya program makan bergizi gratis (MBG) yang tidak terprogram secara matang akhirnya memotong dan mengambil dana dari berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan yang dananya harus dipangkas untuk menyokong program MBG yang tidak nyata manfaatnya, justru sering menjadi kemubaziran karena tidak semua menu bisa diterima anak dan berisiko keracunan. Itulah solusi pragmatis yang sering terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini.

Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar setiap warga yang wajib dipenuhi oleh negara tanpa memandang status warga tersebut, baik kaya atau miskin. Semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Negara juga tidak akan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut karena negara memiliki sumber dana yang ada di baitulmal yang berfungsi sebagai penyimpan dan penyalur kekayaan negara. Sumber dananya diperoleh dari zakat, hibah, kekayaan negara, harta milik umum, dan lainnya. Untuk harta milik umum, negara hanya akan mengelola dan hasilnya akan dikembalikan kepada rakyat berupa pendidikan yang murah, bahkan gratis dan berkualitas. Demikian juga dengan jaminan kesehatan dan fasilitas publik lainnya.

Perhatian Islam dalam dunia pendidikan menghasilkan para pakar di berbagai bidang, seperti bidang kedokteran, ada Ali At-Thabari, Ar-Razi, Al-Majusi, dan Ibn Sina. Di bidang kimia seperti Jabir bin Hayyan, di bidang astronomi dan matematika ada Mathar, Hunain bin Ishaq, Tsabit bin Qurrah, Ali bin Isa Al-Athurlabi, dan lainnya. Dalam bidang geografi, seperti Yaqut Al-Hamawi dan Al-Khuwarizmi. Dalam bidang historiografi ada Hisyam Al-Kalbi, Al-Baladzuri, dan lain-lain.

Hanya dengan menerapkan sistem Islam, pendidikan akan menjadi prioritas dan tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan sekolah daring di saat negara dalam krisis energi. Negara akan mencari sumber pemasukan lain agar pendidikan tatap muka tetap berjalan karena negara paham, hanya dengan pendidikan akan terbentuk generasi cemerlang penerus peradaban.

Berjuang bersama jamaah dakwah ideologis adalah satu-satunya cara untuk bisa menegakkan sistem Islam yang akan membawa kebaikan dan keadilan bagi seluruh alam. Marilah segera bergabung dengan jamaah dakwah ideologis untuk menyambut sistem terbaik seperti yang telah dikabarkan oleh Rasulullah saw.

Wallahu a‘lam bishshawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment