| 8 Views
Kebiadaban Hukum Buatan Manusia, Mengapa Solusi untuk Gaza Selalu Buntu?
Oleh: Al Juju
Gaza kembali bersimbah darah. Kapal-kapal bantuan kemanusiaan yang membawa harapan bagi rakyat yang terkepung justru dicegat di perairan internasional. Ratusan aktivis ditangkap, puluhan terluka. Di daratan, bom terus menghujani wilayah sipil, menghancurkan rumah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Dunia menyaksikan, mengecam, lalu berlalu. Luka itu terus berulang tanpa jeda, tanpa akhir. Lalu muncul satu pertanyaan mendasar: mengapa solusi untuk Gaza selalu buntu?
Melihat dan mendengar melalui media sosial terkait masalah Gaza membuat hati berkecamuk antara geram, benci, dan marah terhadap Israel yang tidak pernah menepati janji. Dalam perjanjian gencatan senjata, seharusnya Israel tidak menyerang Gaza. Namun, janji itu selalu dilanggar. Bahkan, Israel selalu memberi justifikasi palsu yang terus berulang untuk mengkriminalisasi setiap bentuk solidaritas untuk Gaza.
Yang membuat lebih geram lagi adalah sikap para pemimpin di negeri-negeri Muslim yang mendiamkan saja setiap bentuk kekejaman dan kebiadaban yang dilakukan oleh Zionis Israel terhadap saudara-saudara seakidah yang ada di Gaza. Kalaupun ada pertentangan, itu hanya sebatas kecaman, kutukan, dan boikot. Walaupun kecaman, kutukan, dan boikot itu diperlukan, namun hal itu tidak menyentuh akar masalah yang bergulir di Gaza. Akar masalahnya adalah tidak adanya institusi negara yang berlandaskan akidah Islam, sehingga negeri-negeri Muslim, termasuk Palestina, menjadi sasaran empuk para penjajah yang ingin menguasai negeri-negeri Muslim tersebut.
Sementara itu, OHCHR telah memverifikasi kematian hampir 300 jurnalis sejak Oktober 2023, ketika Zionis Israel mulai melancarkan agresi ke Gaza. Serangan selama dua tahun di Gaza telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, melukai lebih dari 172.000 lainnya, serta menghancurkan 90 persen infrastruktur sipil.
Kementerian Luar Negeri Israel juga mengonfirmasi bahwa pasukannya telah mencegat dan menyita lebih dari 20 kapal dari Global Sumud Flotilla. Insiden tersebut terjadi di Laut Mediterania, dekat Pulau Kreta, Yunani, yang berjarak ratusan mil laut atau lebih dari 1.000 kilometer dari daratan Israel. Sekitar 175 aktivis yang berada di atas kapal dilaporkan ditahan oleh pihak Israel.
Flotilla tersebut membawa bantuan kemanusiaan dan berangkat dua minggu sebelumnya dari Sisilia, Italia. Awalnya terdapat 58 kapal yang bertujuan menembus blokade panjang Israel atas Gaza.
Saat ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang antara Iran melawan Israel dan Amerika belum juga selesai. Efeknya merambat pada kenaikan harga-harga pangan yang kian melambung. Bahkan, harga plastik pun saat ini sedang meroket. Nasib rakyat makin terjepit. Beginilah ketika syariat Islam tidak diterapkan dan hukum-hukum buatan manusia yang dipergunakan. Maka, tunggulah kehancuran dan kebinasaannya.
Umat Islam di dunia, terutama para penguasa dan tokohnya, tidak pantas berdiam diri atau merasa cukup dengan hanya menyampaikan kecaman, dengan menyaksikan saudara-saudara di Gaza yang sampai saat ini masih terjajah. Harusnya, mereka berani melakukan langkah-langkah politik untuk membungkam kebiadaban Zionis di bawah dukungan Amerika.
Saatnya umat Islam bangkit dan bersatu menuju perubahan yang hakiki, dengan menggagas perubahan yang mendasar melalui dakwah Islam politik ideologis sesuai metode dakwah Rasulullah saw. Umat sudah cukup dihadapkan dengan banyak fakta bahwa tidak mungkin berharap pada kepemimpinan yang tidak tegak atas dasar Islam. Umat harus paham bahwa solusi yang dibutuhkan saat ini adalah tegaknya Khilafah di tengah-tengah masyarakat. Hanya Khilafah dan jihad yang mampu membebaskan rakyat Palestina dari penjajahan, bukan BoP ataupun PBB.
Tragedi Gaza menunjukkan satu hal mendasar tentang absennya kekuatan politik umat yang mampu melindungi dan mengurus kepentingan kaum Muslim secara menyeluruh. Dalam Islam, keberadaan kepemimpinan umum bukan sekadar kebutuhan administratif, tetapi bagian dari perintah syara. Rasulullah ﷺ bersabda, “Imam, khalifah, adalah perisai, junnah, di belakangnya kaum Muslim berlindung.” (HR Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan berfungsi sebagai pelindung umat.
Wallahu a’lam bishshawab.