| 5 Views

Kasus Day Care Little Aresha: Alarm Krisis Peran Ibu

Sejumlah warga melihat lokasi Daycar Little Aresha di Jalan Pakel Baru, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja. Tempat Penitipan Anak (TPA) ini digrebek Polresta Jogja setelah adanya laporan dugaan kekerasan anak. /Harian Jogja-Sunartono.

Oleh: Siti Hulfiya
Aliansi Penulis Rindu Islam

Kasus kekerasan yang terjadi di Day Care Little Aresha, atas laporan dari mantan pengasuh yayasan, mengatakan terdapat tindak kekerasan balita. Video kekerasan anak di Day Care Little Aresha yang beredar di media sosial membuat netizen mempersoalkan peran ibu yang seharusnya mengasuh putra-putrinya di rumah, diambil alih oleh day care. Kekerasan anak menyisakan trauma yang mendalam sehingga dalam pemulihannya butuh waktu yang lama.

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan Day Care Little Aresha merupakan fenomena gunung es (www.bbc.com, 27-04-26). Maksud dari fenomena gunung es karena berdasarkan data KPAI ada lebih dari 3.000 day care tidak mengantongi izin dan tidak terpantau oleh Pemda setempat.

Hal ini memberikan tanda agar Pemda menyasar day care yang belum mendapatkan izin usaha dan operasional. Namun, untuk mendapatkan izin usaha dan operasional membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Itulah mengapa ada day care yang tidak mau mengurusi izin usaha dan izin operasional di Pemerintah Daerah. Kasus kekerasan terhadap anak-anak marak mewarnai awal tahun 2026, seperti yang terjadi di Demak, yang mana korban berakhir dengan kematian. Bermula dari kekerasan verbal, anak kelas 6 SD memilih gantung diri karena tidak kuat mendapatkan kekerasan verbal, dan banyak.

Ibu Pendidik Pertama dan Utama

Kekerasan anak menjadi marak karena beberapa faktor, yaitu faktor internal keluarga, lingkungan sosial, dan karakteristik anak. Dari ketiga faktor, yang paling dominan terjadi kekerasan anak adalah faktor internal keluarga.

Keluarga merupakan tempat pertama anak mendapatkan pendidikan. Di sanalah awal yang menentukan lahirnya generasi penerus bangsa. Peran ibu menjadi pendidik pertama, tapi sayang peran itu sudah diambil oleh pihak lain, misalnya neneknya atau day care. Alasan ekonomi membuat peran ibu sebagai pendidik pertama dan utama terabaikan. Inilah buah pahit dari sistem Kapitalisme, di mana perempuan dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan.

Negara di dalam sistem Kapitalisme hanya menyejahterakan yang memiliki uang banyak, bukan menyejahterakan rakyat secara keseluruhan. Tidak ada sekolah yang kualitasnya bagus dengan harga murah, tapi sekolah yang mahal dijamin kualitasnya bagus. Sehingga, tak heran banyak para ibu bekerja membantu suami memenuhi kebutuhan mendasar buah hatinya seperti pendidikan.

Penerapan sistem Kapitalisme ini berdampak buruk terhadap lahirnya generasi penerus bangsa. Negara yang menerapkan sistem Kapitalisme terancam lost generation karena fungsi keluarga yang dijadikan sebagai tempat tumbuh kembang buah hati bersama ibunya sudah terenggut oleh uang.

Satu-satunya sistem kehidupan yang sangat peduli terhadap pembentukan generasi adalah Islam. Islam menjadikan pernikahan sebagai pintu gerbang terbentuknya keluarga yang berlandaskan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Buah hati yang lahir dari keluarga muslim menciptakan generasi peradaban Islam. Generasi ini dididik oleh seorang ibu yang mempunyai ketakwaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tinggi. Begitu pentingnya peran ibu dalam mencetak generasi, negara memberikan pendidikan bagi perempuan muslim sebagai bekal untuk mendidik buah hati, bukan untuk bekerja.

Islam juga memperbolehkan perempuan bekerja, bukan melarang, dengan syarat tidak melalaikan peran utamanya sebagai pendidik pertama buah hati. Negara juga memastikan kebutuhan hidup terpenuhi secara layak sehingga seorang ibu tidak perlu bekerja memenuhi kebutuhan hidup. Di dalam sistem Islam, tidak perlu ada penitipan anak atau day care yang berakhir kekerasan terhadap anak.


Share this article via

0 Shares

0 Comment