| 54 Views
Haru Biru Idul Fitri di Tengah Agresi
Oleh: Ummie Uqie
Dua pekan sudah kita memasuki bulan Syawal. Semarak Idul Fitri pun masih bisa kita rasakan sebagai hari yang dirayakan dengan penuh warna dan sukacita.
Namun, tidaklah demikian yang dirasakan saudara-saudara kita di Palestina. Jangankan opor dan ketupat, kastengel dan kue nastar; kenyamanan menjalankan salat hari raya pun nyaris tak ada. Dengan mempertaruhkan nyawa, salat Id dilaksanakan di bawah ancaman rudal dan peluru Zionis yang tak henti-hentinya melancarkan ekspansi kejamnya.
Hanya karena keimananlah warga Palestina sanggup berdiri untuk salat dan merayakan Idul Fitri dengan ikhlas, meski dalam duka, air mata, dan kehilangan tak terperi. Anggota keluarga hilang terbunuh, bahkan tubuh pun tak lagi utuh.
Tubuh yang sekian lama minim mendapatkan asupan akibat sadisnya agresi yang dilancarkan Israel, berupa pelaparan dan krisis kemanusiaan berkepanjangan, diciptakan oleh Zionis Israel dan sekutunya yang tetap saja berkhianat terhadap perjanjian-perjanjian damai dan gencatan senjata.
Sejak Oktober 2025 saja, tak kurang dari 2.000 pelanggaran dilakukan Israel terhadap kesepakatan gencatan senjata. Untuk kesekian kalinya, ratusan warga Palestina tewas dan ribuan lainnya luka-luka.
Terhambatnya bantuan kemanusiaan serta ketatnya akses keluar-masuk gerbang Rafah menambah derita warga. Bahkan, dalam suasana hari raya pun seakan tak ada belas kasih. Pembatasan akses masuk masjid-masjid diberlakukan untuk mencegah ribuan warga Palestina melaksanakan salat Idul Fitri dengan nyaman.
Namun, semua yang terjadi itu sering kali terlupakan oleh dunia, khususnya saat ini ketika dunia tengah disibukkan dengan pecahnya perang Israel versus Iran.
Padahal, momen Idul Fitri semestinya menjadi momen kebangkitan kita, saat persatuan seluruh umat Muslim seharusnya terwujud. Idul Fitri juga semestinya menjadi momen ketika Islam tegak sebagai pemimpin dunia, sehingga terhapuslah segala bentuk penjajahan dan penindasan.
Sebab, dalam Islam, perlindungan dan keamanan berlaku bagi setiap jiwa manusia. Hal itu hanya dapat terwujud jika Islam memiliki otoritas sebagai pemimpin manusia, yang mengemban amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Niscaya lenyap penderitaan saudara-saudara kita yang terzalimi, lenyap tindakan-tindakan tak beradab yang merusak kehidupan, dan tak akan ada lagi kisah Idul Fitri di tengah agresi Zionis yang mengancam nyawa.
Allahu a‘lam bi ash-shawab.