| 23 Views

Generasi Emas Terlahir dari Sistem dan Pendidikan Terbaik, Bukan Ambisi Penguasa

Gambar ilustrasi. (Image Source: busertimur.com)

Oleh: Rosmi
Aktivis Muslimah

Demi pencapaian target ekonomi, pemerintah mulai mengacak dan menghancurkan dunia pendidikan. Kampus sebagai pencetak generasi penerus bangsa mulai dikacaukan dengan rencana gila dan wacana penghapusan prodi yang katanya tidak relevan dengan ambisi pemerintah. Tujuan pendidikan sudah tidak murni untuk mencerdaskan anak bangsa, tetapi arah pendidikan dibelokkan untuk kebutuhan industri. Wacana ini mendapat penolakan dan beragam komentar dari berbagai pimpinan perguruan tinggi di Indonesia.

Sekjen Kemendikti Saintek, Badri Munir Sukoco, dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, Kamis (23/4/2026), menyampaikan rencana pemerintah dalam waktu dekat akan memilih, memilah, bahkan menutup prodi yang tidak relevan dengan kebutuhan kehidupan masa mendatang. Padahal, pembukaan dan penutupan prodi merupakan wewenang dari PTNBH.

Sementara itu, menanggapi beragam komentar penolakan wacana penutupan prodi, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yulianto, pada kesempatan lain di kantornya tanggal 29 April 2026, mengatakan tidak akan menutup prodi pada perguruan tinggi, tetapi akan dikembangkan sesuai kebutuhan di masa depan. (Kompas.com, 29 April 2026)

Indonesia dengan penerapan sistem demokrasi kapitalisme menempatkan uang dan kekayaan di atas segalanya, sehingga segala sesuatu yang dapat mendatangkan uang dan keuntungan lebih diutamakan. Pendidikan yang dapat menuntun pola pikir dan melahirkan kecerdasan, serta dapat memajukan bangsa justru diremehkan dan dipaksa tunduk mengikuti ritme dunia industri.

Sistem ini melahirkan pemerintahan yang gagal menjalankan fungsinya dan melepas tangan dari tanggung jawab negara atas rakyat. Negara yang harusnya menunaikan kewajiban mencetak dan menyediakan SDM yang handal dan ahli dalam segala bidang sebagai perwujudan untuk melayani masyarakat justru menjadi kaki tangan korporat.

Pemerintahan saat ini adalah pemerintahan yang penuh kepalsuan yang tidak dapat melindungi warga negaranya. Hal ini terlihat dari pengambilan kebijakan dan penetapan hukum yang selalu berpihak pada korporasi. Pemerintah bertindak sebagai pebisnis yang selalu menghitung untung rugi dengan rakyatnya, atau lebih parah lagi sebagai pemalak rakyat dengan segala macam aturan pajak yang tidak masuk akal.

Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantara Malaikat Jibril memiliki seperangkat aturan yang sangat agung. Manusia diciptakan menjadi khalifah di muka bumi, berarti kekuasaan berada di tangan manusia, tetapi kedaulatan tertinggi tetap berada pada hukum syarak, bukan pada kekuasaan manusia.

Dalam sistem pemerintahan Islam, kewajiban seorang pemimpin adalah meriayah rakyatnya. Memenuhi kebutuhan dasar seperti keamanan, kesehatan, dan pendidikan. Karena memikul tanggung jawab yang begitu besar, pemimpin dalam Islam harus memiliki kriteria yang telah ditetapkan hukum syarak. Untuk dapat mencetak pemimpin hebat dan generasi emas penerus peradaban, pemerintah wajib menyediakan sistem pendidikan dan kurikulum terbaik yang dapat mewujudkannya.

Kurikulum dan visi-misi pendidikan dalam sistem pemerintahan Islam berjalan sesuai dengan tuntunan syariah, bukan keinginan atau intervensi para pengusaha maupun tekanan dari luar pemerintahan. Sarana dan prasarana pendidikan serta pembiayaan para pendidik dikelola dan didanai oleh negara yang bersumber dari baitulmal.

Pemerintah berkewajiban mencetak para ahli di berbagai bidang serta menempatkan para ahli sesuai dengan bidang keahliannya untuk melayani urusan umat. Tentu semua itu dapat diraih dengan menghadirkan sistem pendidikan yang terbaik. Rasulullah telah memperingatkan umatnya dengan perkataannya yang begitu mulia.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kiamat/kehancuran.” (HR Imam Bukhari)

Pendidikan dalam Islam bertujuan untuk melahirkan generasi gemilang penerus peradaban, bukan untuk memenuhi nafsu penguasa untuk memperkaya diri. Karena dalam sejarah peradaban manusia, kekayaan tidak dapat menghadirkan generasi gemilang, apalagi generasi penerus peradaban.

Generasi emas Islam, baik pada masa sahabat, Bani Umayah, Abbasiyah, hingga Bani Utsmani yang berakhir di Turki, telah berhasil mencetak generasi gemilang seperti Al-Biruni, ilmuwan muslim serba bisa atau dikenal sebagai bapak segala ilmu, yang menguasai astronomi, geografi, matematika, filsafat, dan kedokteran yang lahir pada masa keemasan keilmuan Islam Bani Abbasiyah.

Al-Biruni lahir dan dibesarkan pada masa Bani Abbasiyah yang terkenal banyak mencetak generasi gemilang. Beliau dilahirkan di pinggiran kota Kath, Khwarazm (Uzbekistan), dan belajar langsung dari astronom terkenal, Abu Nasr Mansur bin Irak, pada masa itu. Inilah gambaran kecil pendidikan yang diatur dalam sistem Islam.

Wallahu a’lam bish shawab.


Share this article via

23 Shares

0 Comment