| 31 Views
BBM Ditengah Gejolak Global
Oleh : Yufi Ummu Zakka
BBM memiliki peran penting di semua kebutuhan. Sebab BBM menjadi media untuk menditributorkan barang-barang kebutuhan dari produser ke konsumen. Sebab jika BBM naik maka akan mempengaruhi semua harga barang yang ada.
Oleh karena itu, Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyatakan, Indonesia menjadi salah satu negara yang bisa survive dengan tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi meski gejolak geopolitik makin meningkat (Tribun.news.com, 7/4/2026).
Hal ini, dilakukan lantaran ada pajak yang menjadi sektor penerimaan negara paling vital yang bisa mem-backup kebutuhan anggaran negara. Dimana penerimaan dari pajak akan masuk dalam APBN. Sehingga pemerintah masih berupaya menahan dampak kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi. Meskipun, kemampuan APBN sangat terbatas dan diperkirakan hanya mampu bertahan dalam jangka pendek. Kemudian berbagai langkah penghematan mulai ditempuh, seperti kebijakan work from home (WFH), pembatasan pembelian BBM, hingga pengurangan beberapa program lainnya.
Disaat kondisi harga BBM subsidi belum naik, antrean panjang pun terjadi di berbagai SPBU daerah. Bahkan masyarakat harus mengantre berjam-jam untuk membeli BBM secara eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi (Kompas; Media Indonesia, akhir Maret--awal April 2026). Kemudian disaat yang sama, pasokan BBM juga terganggu akibat kapal tanker Pertamina tertahan di Selat Hormuz karena dinamika geopolitik global (Bisnis; CNN Indonesia, April 2026).
Kondisi ini membuat pemerintah dilema dan kelimpungan. Sebab jika BBM dinaikan maka inflasi meningkat dan menimbulkan gejolak sosial. Pada bulan April saja ketika harga belum naik sudah terjadi antrean panjang di berbagai tempat. Tetapi jika tidak dinaikkan maka defisit anggaran APBN akan terus meningkat. Padahal Indonesia menjadi salah satu negara importer minyak yang keberadaan tergantung dari pasokan BBM luar. Maka kondisi ini semakin menyulitkan masyarakat, baik dalam mendapatkan BBM atau menjangkau harga BBM yang naik. Dengan ancaman terjadinya inflasi. Fenomena ini terjadi karena negara bergantung pada impor komoditas strategis(BBM). Ekonomi dan politiknya terguncang jika terjadi sentimen global. Sebab gejolak internasional---baik konflik geopolitik maupun gangguan distribusi--akan berdampak pada kondisi domestik. Ini menunjukkan bahwa sektor energi nasional belum memiliki kemandirian yang kuat.
Kondisi krisis BBM ini akan terus berulang selama negeri ini bergantung pada impor dan mekanisme pasar global. Seharusnya kondisi ini menyadarkan pemerintah bahwa persoalannya bukan sekedar fluktuasi harga global, tetapi ketiadaannya kedaulatan dalam pengelolaan energi. Ini lah nasib negara dalam sitem Kapitalis liberal. Mereka yang tidak memiliki kekuasaan maka akan terus ditindas dan dijajah untuk tunduk kepada oligarki dan negara barat. Sistem sekarang pula membuat negara muslim sulit untuk bersatu dan tidak memiliki kedaulatan. Kenapa? Karena para oligarki paham jika umat Islam bersatu mereka tidak akan berkuasa dan tidak memiliki apa-apa untuk negara mereka sendiri.
Maka jelas kedaulatan energi(kemandirian BBM) hanya bisa terwujud dengan adanya sistem Islam dalam bingkai khilafah. Ketika Indonesia tergabung dalam Khilafah dengan negeri-negeri muslim lain. Minyak yang melimpah di wilayah Arab, termasuk Iran, akan didistribusikan dengan mudah untuk seluruh negeri di wilayah Khilafah.
Dengan kemandirian BBM ini, Khilafah akan menjadi negara independen, bahkan adidaya, sehingga politik dan ekonominya tidak mudah terguncang akibat gejolak global. Meskipun memiliki kemandirian BBM, Khilafah tetap menggunakan BBM dengan bertanggung jawab sesuai kebutuhan berdasarkan syariat. Penghematan dilakukan pada hal-hal yang perlu dihemat, bukan pada pelayanan publik atau kewajiban seperti jihad. Kemudian khilafah juga tetap mengembangkan sumber energi selain minyak, seperti nuklir dll. sehingga menjamin pemenuhan kebutuhan energi sebagai negara adidaya.
Wallahu 'alam bissowab.