| 10 Views

Tragedi Peringatan Nakba

Oleh: Yati

Aksi serentak yang dilakukan warga Palestina dan para peserta otoritas lainnya turun ke jalan, berpusat di tengah kota, dan membentangkan bendera Palestina yang berukuran besar serta menyuarakan “Nakba”. Acara peringatan terpusat di Ramallah, yang dilansir METRO TV (18/05/2026).

Warga Palestina memperingati 78 tahun Hari Nakba di setiap tanggal 15 Mei.

Sebelum peristiwa Nakba yang terjadi pada 1948, rakyat Palestina hidup dengan damai. Diketahui, Palestina dulunya merupakan bagian dari Kekaisaran Ottoman, setidaknya hingga 1917. Namun, setelah mandat Inggris di Palestina, secara perlahan gelombang imigrasi Yahudi dari Eropa dan Rusia ke Palestina membuat semua menjadi kacau karena paham Zionisme, dan akhirnya terjadilah peristiwa Nakba.

Hari yang bagi rakyat Palestina berarti awal dari kehilangan tanah, rumah, dan masa depan mereka sejak 1948. Hari di mana lebih dari 700 ribu orang Palestina terusir dan 15.000 jiwa melayang. Ini bukan bencana alam, tapi peran sekelompok orang yang mendirikan negara ilegal di atas tanah orang lain.

Istilah Nakba dalam bahasa Arab mengacu pada peristiwa 1948 seputar berdirinya Israel. Selama perang Arab dan Israel terjadi, warga Palestina diusir dari rumah mereka yang menyebabkan pengungsian dalam jumlah besar. Aksi teror yang dilakukan gerombolan teroris Israel mengakibatkan warga Palestina diburu, dikejar, dan dibunuh secara keji. Nakba adalah momen penting dalam konflik Israel-Palestina.

Setelah itu, Israel memproklamasikan kemerdekaannya. Serangkaian hukum diterapkan oleh pemerintah Israel untuk mencegah warga Palestina pulang ke tanah yang semula mereka tempati dan harta yang sempat mereka tinggalkan. Hal ini menjadi salah satu masalah yang paling sulit diselesaikan dalam negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung. Tuntutan inti Palestina dalam negosiasi perdamaian dengan Israel adalah semacam keadilan bagi para pengungsi dan sebagian dari kampanye Yahudi selama bertahun-tahun yang terencana untuk menyikat tanah Palestina. PBB menyetujui wilayah Palestina menjadi dua negara, Yahudi dan Arab. Negara-negara besar dunia menolak yang dinilai PBB berpihak ke Israel atas tanah kekuasaannya yang lebih besar daripada Palestina.

Pembebasan Palestina tidak bisa diharapkan dari negara-negara adidaya dan lembaga internasional yang hanya mengukuhkan penjajahan terhadap umat Islam. Tragedi Nakba bukan sekadar sejarah masa lalu, tapi keberlanjutan penjajahan. Bukti kegagalan sistem yang menunjukkan kebusukan konsep negara bangsa yang membuat umat Islam kehilangan power-nya. Saat ini, umat muslim masih terus berjuang mengusir penjajahan di tengah diamnya para pemimpin dunia.

Tragedi terbesar dalam konflik ini bukanlah pada kekuatan senjata musuh, melainkan pada sikap diam dan keterlibatan para penguasa di negeri-negeri muslim. Para penguasa Arab dan muslim saat ini sebagian besar terjebak dalam pragmatisme yang menghinakan.

Agenda utama saat ini adalah memahamkan umat tentang urgensi hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam. Menyatukan seluruh potensi negeri-negeri muslim menjadi satu kekuatan politik dalam pemerintahan Islam, yaitu Khilafah Islam.

Hanya dengan berdirinya Khilafah, umat Islam sudah seharusnya meyakini kabar gembira akan kembalinya Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah. Semua upaya untuk mendukung kembalinya Khilafah menjadi tujuan yang harus diperjuangkan.

Sudah saatnya umat Islam bangkit dari tidur politiknya. Kita harus menanggalkan baju nasionalisme sempit yang memecah belah umat. Hanya dengan persatuan sejati yang berlandaskan akidah Islam dan diwujudkan dalam institusi politik yang berdaulat, yakni Khilafah, umat Islam siap merebut kepemimpinan dunia dan menebar rahmat bagi seluruh alam.

Wallahu a’lam.


Share this article via

0 Shares

0 Comment