| 11 Views
Spanyol Menolak “Jadi Landasan Perang”: Trump Ancam Putus Total Perdagangan, Madrid Balas dengan Bahasa Hukum dan Kedaulatan
CendekiaPos - MADRID/WASHINGTON — Di tengah memanasnya perang AS–Israel melawan Iran, satu negara Eropa memilih berkata “tidak” dengan cara yang paling khas Eropa: pakai pasal, pakai kedaulatan, pakai perjanjian dagang. Spanyol menolak mengizinkan pangkalan militer gabungan di wilayahnya dipakai untuk misi yang terkait serangan ke Iran. Lalu dari Washington, Presiden Donald Trump merespons dengan ancaman yang terdengar ekstrem: memutus seluruh perdagangan dengan Spanyol.
Di ruang Oval Office, Trump menyebut “Spanyol mengerikan” karena menolak akses pangkalan, dan mengaku telah memerintahkan Menteri Keuangan Scott Bessent untuk “memutus semua urusan” dengan Spanyol—bahkan mengatakan AS “tidak ingin ada hubungan apa pun dengan Spanyol.”
Namun di Madrid, responsnya tidak berupa kemarahan berapi-api. Pemerintah Spanyol memilih kalimat dingin: ingatkan AS pada hukum internasional dan perjanjian dagang Uni Eropa–AS, sambil menyatakan punya sumber daya untuk menahan dampak jika ancaman itu benar-benar diwujudkan.
“Pangkalan Spanyol Tidak Untuk Operasi Ini”
Kunci polemiknya ada pada dua nama: Rota dan Morón—pangkalan militer di Spanyol selatan yang dioperasikan bersama AS dan Spanyol, tetapi berada di bawah kedaulatan Spanyol.
Menteri Luar Negeri Spanyol José Manuel Albares menegaskan pangkalan itu tidak digunakan untuk serangan ke Iran dan tidak akan digunakan untuk hal apa pun di luar perjanjian dengan AS atau yang bertentangan dengan Piagam PBB.
Pernyataan itu bukan sekadar kalimat diplomatik. Ia adalah garis tegas: Spanyol ingin memastikan bahwa jika perang meluas, Madrid tidak otomatis ikut terseret hanya karena ada aset militer AS di wilayahnya.
15 Pesawat Dipindahkan: Isyarat Perang Memaksa Logistik Bergerak
Setelah penolakan itu, AS dilaporkan memindahkan 15 pesawat—termasuk pesawat tanker pengisi bahan bakar—dari pangkalan Rota dan Morón.
Di medan perang modern, perpindahan pesawat seperti ini sering terbaca sebagai sinyal: rencana operasi menyesuaikan politik, dan politik memaksa logistik berubah.
Madrid Mengingatkan: “Patuhi Hukum Internasional dan Perjanjian Dagang EU–AS”
Pemerintah Spanyol menyatakan AS harus mematuhi hukum internasional dan perjanjian dagang bilateral EU–AS.
Di titik ini, ancaman Trump berbenturan dengan realitas: Spanyol adalah anggota Uni Eropa, sehingga perdagangan Spanyol–AS berada dalam kerangka hubungan EU–US. Itu membuat wacana “putus total” tidak sesederhana menekan tombol—karena berpotensi memicu respons kolektif Eropa.
Bukan Hanya Iran: Ini Juga Soal NATO dan Anggaran Pertahanan
Di balik isu pangkalan dan Iran, ada lapisan lain: NATO.
Trump menekan anggota NATO agar belanja pertahanan naik hingga 5% dari GDP pada 2035. Spanyol menolak tuntutan itu, dan Trump menjadikannya bagian dari kritik bahwa Madrid “tidak memenuhi” kewajiban.
Dengan kata lain, ini bukan konflik satu isu—ini konflik posisi: Spanyol ingin ruang manuver dan kebijakan luar negeri yang tidak sepenuhnya mengikuti Washington.
Ironi Data Perdagangan: AS Justru Surplus dengan Spanyol
Ancaman “putus semua trade” terdengar seperti hukuman ekonomi besar. Namun angka perdagangan justru menghadirkan ironi: AS mencatat surplus perdagangan barang dengan Spanyol untuk tahun keempat berturut-turut pada 2025, sebesar $4,8 miliar. Data Biro Sensus AS mencatat ekspor AS ke Spanyol sekitar $26,1 miliar dan impor dari Spanyol $21,3 miliar.
Artinya, jika “pemutusan total” benar-benar dilakukan, AS juga akan memotong pasar ekspornya sendiri—termasuk komoditas energi seperti minyak mentah dan LNG yang disebut berkontribusi pada surplus AS.
Spanyol sendiri dikenal sebagai eksportir besar minyak zaitun, serta mengekspor suku cadang otomotif, baja, dan bahan kimia ke AS—sehingga dampak ancaman Trump akan terasa, tetapi tidak otomatis mematikan ekonomi Spanyol secara total, apalagi di bawah payung pasar Uni Eropa.
Ketika “America First” Bertemu “Sovereignty First”
Kisah Spanyol–Trump ini terasa seperti potongan mozaik yang lebih besar: perang Iran bukan cuma soal rudal dan pangkalan, tetapi juga soal siapa memegang kendali atas keputusan perang—dan siapa yang berhak berkata “tidak”.
Spanyol memilih posisi: menolak keterlibatan yang tidak sesuai perjanjian dan hukum internasional. Trump memilih tekanan: ancaman perdagangan dan serangan retorika.
Dan dari sini, dunia melihat: di era konflik yang melebar, kedaulatan bukan hanya kata di dokumen—ia bisa menjadi pemicu ketegangan ekonomi yang nyata.