| 45 Views
Sistem Ekonomi Kapitalisme: Penyebab Generasi Muda Takut Menikah
Freepik.com
Oleh: Latifah Muslimah
Aktivitas Muslimah Tamansari
Fenomena generasi muda lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi jadi alasan utama generasi muda menunda pernikahan. Diperlukan solusi konkret dari pemerintah untuk mendorong kesejahteraan. (Kompas.id).
Fenomena penundaan pernikahan di kalangan generasi muda saat ini bukanlah sekadar masalah pilihan gaya hidup, melainkan cermin nyata dari luka parah yang ditorehkan oleh sistem ekonomi saat ini. Ketakutan untuk melangkah ke jenjang pernikahan berakar kuat pada ketidakstabilan finansial, sebuah ironi dalam masyarakat yang seharusnya berhak merasakan kesejahteraan.
Namun Faktanya masyarakat sangat jauh dari kata sejahtera, dengan adanya lonjakan harga kebutuhan pokok, biaya hunian yang tidak terjangkau serta sulitnya lapangan pekerjaan, menjadikan hal ini sebagai alasan kuat generasi muda enggan menikah, karena mereka menilai kestabilan ekonomi lebih penting dari pada segera menikah. Tanpa adanya jaminan finansial, pernikahan dianggap sebagai tindakan yang ceroboh. Belum lagi di media sosial dan lingkungan pergaulan narasi "married is scary" terus digaungkan hingga meracuni benak generasi muda bahwa kehidupan pernikahan begitu mengerikan.
Kita hidup di masa sistem kapitalisme tegak. Sistem ini telah menciptakan kondisi dimana biaya hidup melambung tinggi, lapangan pekerjaan sulit dan upah cenderung ditekan demi memaksimalkan laba korporasi. Negara sebagai regulator utama cenderung lepas tangan dalam menjamin kebutuhan dasar dan kesejahteraan rakyatnya. Beban hidup yang seharusnya menjadi tanggung jawab kolektif dan dijamin oleh negara, kini dipikul sepenuhnya oleh individu.
Untuk mengatasi luka ekonomi ini secara fundamental, diperlukan perubahan Sistemik melalui penerapan sistem ekonomi Islam secara menyeluruh. Dalam sistem Islam negara sebagai penjamin kesejahteraan rakyat, negara bertanggung jawab memastikan setiap individu, termasuk yang belum menikah, untuk memiliki sandang, pangan dan papan yang layak. Jika seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan primernya, negara wajib memberikan bantuan langsung dari Baitul Mal (kas negara). Dalam sistem Islam negara juga wajib menyediakan layanan publik secara gratis atau dengan biaya yang sangat minimal untuk seluruh rakyat, yang dibiayai dari hasil pengelolaan sumber daya alam. Negara juga wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini dapat menghilangkan beban biaya pendidikan anak yang sering menjadi pertimbangan utama pasangan muda. Selain itu negara juga wajib menyediakan layanan kesehatan gratis yang bisa diakses dengan mudah oleh seluruh rakyat. Semua jaminan finansial yang diberikan negara dalam sistem Islam hasil dari pengelolaan sumber daya alam secara optimal oleh pemimpin negara yaitu Khalifah. Optimalisasi sumber daya strategi adalah kunci utama dalam memenuhi pendapatan negara, untuk menunjang biaya layanan publik dan subsidi, yang kini dikuasai swasta atau asing dalam sistem Kapitalisme. Sumber daya alam yang kepentingannya menyangkut hajat hidup orang banyak seperti, minyak, gas, tambang, hutan skala besar, dan air. Sumber daya ini wajib dikelola oleh negara bukan oleh swasta atau asing dan hasilnya dimasukkan kedalam kas negara (Baitul Mal).
Melalui penerapan sistem Islam yang komprehensif ini, ketakutan finansial generasi muda akan dicabut akarnya. Pernikahan akan kembali menjadi jalan yang mudah dan mulia, karena jaminan ekonomi dasar telah dipenuhi oleh negara. Oleh karena itu kita perlu langkah untuk mewujudkan penerapan sistem Islam dimuka bumi ini, yaitu dengan mengkaji Islam secara mendalam guna membentuk individu memiliki pemikiran dan kesadaran Islam yang tinggi dan menyeluruh. Dan mendakwahkan ide-ide Islam untuk membangun kesadaran dan opini publik bahwa Islam adalah satu-satunya solusi yang benar dan realistis untuk setiap permasalahan yang ada.