| 13 Views

“Kami Tahu Israel Akan Menyerang”: Pernyataan Rubio Menggema, Membelah AS—Dari Demokrat sampai Basis MAGA Ikut Murka

CendekiaPos - WASHINGTON, DC — Kata-kata itu meluncur pelan, tetapi efeknya seperti ledakan kecil di ruang politik Washington:
“Kami tahu akan ada aksi Israel.”

Dalam logika yang disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Senin, perang AS melawan Iran bukan dimulai karena serangan Iran sudah terjadi, melainkan karena Israel dinilai akan menyerang lebih dulu, dan Washington memperkirakan Iran akan membalas dengan menyerang aset serta pasukan AS di kawasan. Maka, menurut Rubio, Amerika memilih melakukan serangan pendahuluan (preemptive strikes) agar tidak menanggung korban lebih besar.

Pernyataan itulah yang kemudian “bergaung” ke mana-mana—dikutip, dipelintir, dibantah, lalu kembali dipakai oleh kubu yang saling bertolak belakang. Dalam hitungan jam, Rubio—yang seolah ingin memberi pembenaran strategis—justru memantik pertanyaan yang jauh lebih sensitif:

Apakah Amerika terseret ke perang demi kepentingan Israel?

Alasan yang Berubah-ubah: Rubio Bicara “Aksi Israel”, Trump Bicara “Kami Akan Diserang”

Pada Selasa, Presiden Donald Trump memberi narasi yang berbeda. Ia mengatakan perang diluncurkan karena ia “mengira” Amerika akan berada dalam situasi diserang—dan menyebut Iran bersiap menyerang Israel serta pihak lain.

Perbedaan ini menjadi bahan bakar kritik: publik melihat alasan perang berganti-ganti. Dalam penilaian banyak ahli, serangan militer ke negara lain—di bawah hukum domestik AS maupun hukum internasional—umumnya memerlukan dasar ancaman yang segera (imminent). Namun, pemerintahan Trump dinilai belum menghadirkan bukti kuat yang meyakinkan publik bahwa ancaman itu benar-benar “segera” dan tak terhindarkan.

Rubio sendiri kemudian mencoba meredakan dampak ucapannya, mengatakan pernyataannya dipahami di luar konteks. Tetapi “kalimat kunci” sudah terlanjur hidup sebagai senjata politik di tangan semua pihak.

“Pengakuan Mengejutkan” dan Tuduhan “Entrapment”

Reaksi keras muncul dari berbagai arah. CAIR (Council on American-Islamic Relations) menyebut ucapan Rubio sebagai “stunning admission”—pengakuan yang mengejutkan—karena dianggap mempertegas dugaan bahwa AS menyerang Iran bukan karena ancaman yang segera, melainkan karena tekanan dan kepentingan Israel. CAIR mendorong Kongres untuk menggunakan mekanisme War Powers guna membatasi kemampuan presiden menjalankan perang tanpa persetujuan legislatif.

Di sisi analis kebijakan luar negeri, Kelly Grieco dari Stimson Center (dikutip Al Jazeera) menyebut implikasi kata-kata Rubio bisa dibaca sebagai pengakuan bahwa Amerika “terjebak” oleh perhitungan Israel—dan ini akan memaksa debat serius tentang di mana kepentingan AS dan Israel selaras, dan di mana mereka berpisah.

Di level politik elite, Senator Bernie Sanders termasuk yang paling vokal. Ia menyebut secara gamblang: “Netanyahu ingin perang dengan Iran. Trump baru saja memberikannya.”

MAGA Ikut Geram: “Kami Tidak Memilih Mengirim Orang Amerika Mati untuk Perang Israel”

Inilah yang membuat episode Rubio menjadi unik: kritik tidak hanya datang dari oposisi Demokrat atau kelompok HAM, tetapi juga dari basis MAGA—kelompok yang selama ini menjadi tulang punggung Trump.

Sejumlah figur konservatif dan komentator pro-Trump menilai ucapan Rubio adalah kalimat terburuk yang bisa diucapkan di saat publik mempertanyakan “America First”. Mereka membaca narasi Rubio sebagai: Amerika berperang karena Israel memaksa keadaan, bukan karena ancaman langsung kepada rakyat Amerika.

Di Partai Republik sendiri, dorongan War Powers juga memperoleh wajah dari kubu yang tidak biasa: Rep. Thomas Massie, yang menautkan isu perang ini dengan konsekuensi domestik—harga energi dan kebutuhan pokok—serta mengingatkan bahwa perang panjang sering berakhir dengan beban ekonomi di rumah.

Bayang-bayang War Powers: Debat yang Akan Menguji Kongres

Dorongan mengajukan resolusi War Powers diperkirakan akan masuk ke DPR dan Senat. Namun tantangannya berat. Partai Trump masih memegang mayoritas tipis, dan dukungan Republikan terhadap operasi militer cenderung solid. Untuk mengalahkan veto presiden, dibutuhkan dua pertiga suara—angka yang sangat sulit dicapai dalam iklim politik sekarang.

Tetapi bagi para pendukungnya, War Powers bukan hanya soal menang-kalah. Ini soal mencatat sikap: siapa yang setuju perang, siapa yang menolak, siapa yang memilih diam.

Dua Kepentingan yang Bisa Segera Berpisah

Di luar perdebatan hukum, ada pembacaan strategis: perang ini bisa membuat kepentingan AS–Israel mulai divergen.

Israel, di bawah Netanyahu, sudah lama mendorong kebijakan keras terhadap Iran. Sementara Trump berada di bawah tekanan politik domestik: ia datang dengan janji “mengakhiri perang-perang luar negeri”, tetapi kini menghadapi konflik yang berpotensi panjang dan mahal.

Jika perang berlarut, biaya ekonomi, korban pasukan, dan penolakan publik bisa meningkat. Reuters/Ipsos bahkan mencatat dukungan publik AS terhadap perang rendah dalam salah satu polling terbaru yang mereka kutip.

Satu Kalimat yang Membuka Pertanyaan Besar

Pernyataan Rubio mungkin dimaksudkan sebagai pembelaan: Amerika menyerang lebih dulu untuk mencegah korban lebih besar. Tetapi di Washington, satu kalimat jarang tinggal sebagai satu kalimat.

Kalimat itu berubah menjadi pertanyaan yang jauh lebih berbahaya bagi pemerintahan Trump:

Apakah “America First” masih berlaku, jika alasan perang terdengar seperti “Israel First”?

Dan di tengah perang yang masih berjalan, pertanyaan itu tidak akan hilang—justru akan semakin keras terdengar setiap kali alasan perang berubah, setiap kali korban bertambah, dan setiap kali rakyat Amerika bertanya: ini perang siapa, untuk siapa, dan sampai kapan?


Share this article via

11 Shares

0 Comment