| 61 Views

Sekularisme Biang Kerusakan Generasi

Ilustrasi Tawuran /Dok

Oleh: Ummu Haziq 
Muslimah Ngaji 

Gempuran pemikiran kufur begitu hebat menyerang generasi. Atmosfer kehidupan hedonis, liberal, dan individualis meliputi generasi saat ini. Telah menjadi rahasia umum bahwa pergaulan bebas, kekerasan di jalan, penggunaan narkoba, serta aborsi makin marak di tengah kalangan anak muda

Seperti yang terjadi baru-baru ini, tawuran antarpelajar pada saat peringatan Hari Guru Nasional. Akibat tawuran tersebut, seorang siswa SMA ditemukan tewas di SPBU Jalan Kapten Sumarsono, Medan. (Sindo News, 25-11-2022). Nyawa pun dipertaruhkan dalam tawuran, peristiwa ini terus berulang terjadi seolah telah menjadi “langganan” di kalangan pelajar.

Kemudian, akibat pergaulan bebas di kalangan remaja (usia 14—19 tahun), tercatat 19,6% kasus kehamilan tak diinginkan (KTD). Berdasarkan laporan BKKBN tahun lalu, sekitar 20% kasus aborsi dilakukan oleh remaja di Indonesia. Selain itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut 22% dari 5 juta pengguna narkoba adalah pelajar. (Antara News, 18-7-2022).

Kerusakan generasi muda yang berlangsung masif telah memunculkan ancaman besar terhadap eksistensi umat. Padahal, generasi muda saat ini kelak akan menjadi para pemimpin umat, pembaru dan agent of change yang akan mengantarkan umat sebagai umat terbaik bagi dunia. Oleh karenanya, kerusakan generasi muda saat ini berarti kerusakan umat pada masa mendatang.

Jika kerusakan terus meningkat, kondisi generasi makin terancam dan menghancurkan aset bangsa. Semestinya, sistem sekularisme dicabut hingga ke akarnya dari negeri ini. Menggantinya dengan sistem Islam yang mampu melahirkan generasi terbaik juga bertakwa.

Negara tampak lemah tidak berdaya memperbaiki kondisi generasi yang kian hari terus menunjukkan kerusakan yang makin parah. Generasi mudah mengakses tontonan porno, kekerasan dan tindakan kriminal terjadi di jalan-jalan, dan narkoba dan miras beredar secara leluasa.

Keberhasilan sekularisme melahirkan generasi rusak dapat kita ketahui dari beberapa indikasi. Pertama, tercerabutnya nilai-nilai agama (Islam) dari generasi hingga akhirnya menjadi individu hedonis dan liberal. Kedua, pendidikan diharapkan mencetak generasi unggul dan bermartabat justru melahirkan generasi rapuh tanpa adab. Pendidikan sekuler yang diterapkan memisahkan agama dari kehidupan.

Seharusnya semua ini menyadarkan kita bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang dihasilkan dari sistem sekuler. Generasi yang lahir hanya cakap ilmu, tetapi bobrok dalam perilaku. Lalu, kita harus mengarahkan pandangan pada sistem Islam yang bisa melahirkan generasi terbaik.

Hanya sistem Islam (Khilafah) yang dapat menghentikan perzinaan, pornografi, miras, narkoba, tontonan kekerasan, dan sebagainya. Khilafah yang menerapkan aturan Islam juga mampu menciptakan lingkungan yang penuh dengan suasana ilmu, kerja keras, dakwah, dan jihad.

Kerja sama antara keluarga, masyarakat, dan negara dalam Khilafah terwujud untuk mengawal tumbuh dan kembang generasi. Sejak dini, setiap anak ditanamkan nilai -nilai dasar keislaman dan menghafalkan Al-Qur’an. Menjelang balig, mereka diperbolehkan menekuni berbagai jenis ilmu. Lahirlah dari sana para intelektual yang menguasai berbagai bidang ilmu dan berakhlak mulia.

Islam memiliki paradigma berbeda dalam penyelamatan generasi. Melalui institusi negara, yakni Daulah Khilafah, Islam menerapkan seperangkat hukum yang menyelesaikan masalah mulai dari akar sampai ke cabang-cabangnya. Hukum ini diterapkan oleh penguasa yang tidak cukup bertanggung jawab terhadap rakyat, melainkan juga bertanggung jawab langsung kepada Allah Taala.

Pemimpin dalam Islam memiliki dua fungsi. Pertama, fungsi pemeliharaan urusan rakyat. Ini sebagaimana sabda  Rasulullah saw.,

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang kalian pimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak, ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Wallahualam bisawab.


Share this article via

34 Shares

0 Comment