| 8 Views

Sanksi Eropa Diperpanjang, Rudal Rusia Terus Jatuh: Ukraina Kian Gelap Saat Dunia Terdistraksi Perang Iran

CendekiaPos - BRUSSELS/KYIV — Ketika perhatian dunia tersedot ke perang baru di Timur Tengah, Ukraina kembali merasakan satu hal yang makin sering terjadi sejak musim dingin: serangan datang saat orang-orang sedang mencoba hidup normal. Listrik padam, pemanas mati, dan suara ledakan menutup pagi.

Pada Sabtu, 14 Maret 2026, Uni Eropa memperpanjang sanksi terhadap individu dan entitas yang mendukung perang Rusia di Ukraina—di saat yang sama, Rusia kembali menghantam infrastruktur energi Ukraina dengan gelombang rudal dan drone yang menewaskan sedikitnya enam orang.

“Perpanjangan sanksi” yang sempat tersandera politik internal

Dewan Uni Eropa menyatakan 27 negara anggota akhirnya sepakat memperpanjang sanksi hingga 15 September, menyasar sekitar 2.600 individu dan entitas melalui pembekuan aset dan pembatasan perjalanan.

Keputusan itu penting bukan hanya karena sanksinya besar, tapi karena sempat tertahan—Hungaria dan Slovakia dilaporkan menghambat kesepakatan. Di balik meja perundingan, keduanya juga bersitegang dengan Ukraina soal aliran minyak Rusia via pipa Druzhba, dan sebelumnya meminta beberapa oligark Rusia dikeluarkan dari daftar.

Serangan Rusia: Kyiv dan Zaporizhzhia berduka

Namun di lapangan, diplomasi berjalan berdampingan dengan bunyi yang lebih keras: serangan udara.

Di wilayah Kyiv, serangan Rusia pada Sabtu menewaskan lima orang dan melukai 15 lainnya, menurut pejabat administrasi militer setempat.
Di Zaporizhzhia, bom berpemandu Rusia disebut menghantam kota tersebut, menewaskan satu orang dan melukai tiga. Foto-foto yang beredar menunjukkan bangunan runtuh dan puing menumpuk seperti sisa “hari yang dibatalkan”.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan sasaran utama Rusia adalah infrastruktur energi di luar ibu kota, namun serangan juga mengenai wilayah Sumy, Kharkiv, Dnipro, dan Mykolaiv. Dalam serangan itu, Ukraina menyebut Rusia meluncurkan sekitar 430 drone dan 68 rudal, sebagian besar berhasil ditembak jatuh sistem pertahanan udara.

Kementerian Energi Ukraina menambahkan: konsumen di enam wilayah mengalami pemadaman listrik.

“Putin akan memanfaatkan distraksi Timur Tengah”

Di tengah kabar sanksi dan serangan, ada satu nada baru yang muncul: kekhawatiran bahwa perang Iran–AS/Israel membuat perhatian internasional teralihkan.

Zelenskyy memperingatkan bahwa Rusia akan mencoba mengeksploitasi perang di Timur Tengah untuk membuat kerusakan yang lebih besar di Eropa—khususnya di Ukraina.

Kekhawatiran itu terasa makin nyata setelah Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengecam Amerika Serikat karena mencabut sanksi atas ekspor minyak Rusia. Ia menyatakan pelonggaran pembatasan berarti meningkatkan sumber daya Rusia untuk melanjutkan perang, dan pada akhirnya memperburuk keamanan Eropa.

Eropa terbelah: “Kalau tak bisa tekan Rusia, tinggal negosiasi”

Sementara itu, Perdana Menteri Belgia Bart De Wever melontarkan ide yang terdengar seperti “pilihan pahit”: jika Eropa tidak mampu mengancam Putin melalui senjata, dan tidak mampu mencekik Rusia secara ekonomi tanpa dukungan AS, maka “tinggal satu metode: membuat kesepakatan.”

Di sisi lain, Kepala diplomat Uni Eropa Kaja Kallas menekankan bahwa blok itu perlu menyepakati dulu apa yang diharapkan dari Rusia sebelum melakukan pendekatan langsung—membentuk “tuntutan maksimal” versi Eropa sendiri.

Kontras pandangan ini menggambarkan ketegangan yang sudah lama ada: Eropa ingin kompak, tapi kepentingan energi dan politik domestik sering membuat “kompak” jadi pekerjaan paling sulit.

Ukraina membalas: kilang minyak dan pelabuhan Rusia diserang

Di saat Ukraina menahan serangan, Kyiv juga menegaskan kemampuan menyerang balik. Militer Ukraina menyatakan telah menghantam kilang minyak Afipsky dan Port Kavkaz di wilayah Krasnodar, Rusia bagian selatan.

Target semacam ini—kilang, depot, terminal—dipilih karena dianggap strategis untuk logistik perang Rusia.

Sanksi berjalan, perang juga berjalan

Di Brussels, sanksi diperpanjang—simbol bahwa Eropa masih ingin menahan Rusia dengan instrumen ekonomi dan politik. Namun di Kyiv dan Zaporizhzhia, simbol itu diterjemahkan dalam kebutuhan yang lebih mendesak: lampu menyala, pemanas hidup, dan warga bisa tidur tanpa suara sirene.

Di perang yang semakin panjang, dua hal bisa benar sekaligus: sanksi penting, tetapi rudal tetap jatuh. Dan ketika dunia sibuk menatap satu perang baru, Ukraina takut menjadi perang yang “dianggap biasa”—padahal setiap hari, selalu ada nama yang baru masuk daftar korban.


Share this article via

2 Shares

0 Comment