| 108 Views
Ketika Kemanusiaan Diblokade: Gen Z Muslim dan Api Perlawanan untuk Palestina
Oleh : Rusnawati
Pemerhati Masalah Umat
Peristiwa pencegatan Global Sumud Flotilla pada 1 Oktober 2025 telah menggemparkan dunia internasional. Armada kemanusiaan yang terdiri dari lebih dari 40 kapal dengan sekitar 500 aktivis dan relawan dari berbagai negara ini membawa misi mulia: mengantarkan bantuan kemanusiaan untuk rakyat Gaza yang terkepung blokade Israel. Kapal-kapal tersebut membawa obat-obatan, makanan, dan peralatan medis yang sangat dibutuhkan penduduk Gaza yang telah mengalami krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Di Indonesia, komunitas Students for Justice in Palestine (SJP) Bandung menjadi salah satu suara lantang yang mengecam pencegatan ini. Mereka melihat tindakan Israel sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi. "Kapal-kapal Global Sumud Flotilla yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Gaza telah diculik oleh Israel," demikian pernyataan keras yang disampaikan aktivis SJP Bandung dalam aksi solidaritas mereka.
Global Sumud Flotilla bukan sekadar armada biasa. Mereka membawa harapan bagi 2,3 juta penduduk Gaza yang terkepung dalam penjara terbuka terbesar di dunia. Obat-obatan yang dibawa sangat vital bagi rumah sakit-rumah sakit Gaza yang kolaps akibat blokade berkepanjangan. Makanan yang diangkut merupakan lifeline bagi ribuan keluarga yang kelaparan. Namun semua itu terhenti ketika pasukan Israel dengan arogansinya mencegat armada tersebut di perairan internasional, sekitar 70 mil laut dari pantai Gaza.
"Mereka membawa obat, makanan, dan harapan. Namun, kemanusiaan kembali diblokade," ungkap salah seorang aktivis kemanusiaan yang terlibat dalam aksi solidaritas. Pencegatan ini bukan hanya serangan terhadap Palestina, tetapi juga terhadap seluruh nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh peradaban dunia. Ketika bantuan kemanusiaan dihentikan dengan kekuatan militer, itu adalah tamparan keras terhadap hati nurani kemanusiaan global (http://www.kompas.com/ 4/10/2025).
Dunia tidak tinggal diam menyaksikan arogansi Israel. Dalam hitungan jam setelah pencegatan, gelombang protes melanda kota-kota besar dunia. London menyaksikan puluhan ribu demonstran memenuhi Parliament Square. Paris diguncang aksi massa di Champs-Élysées. Roma melihat ribuan orang berkumpul di Piazza del Popolo. Brussels, sebagai jantung Uni Eropa, juga tidak luput dari gelombang kemarahan massa. Kolombia bahkan mengambil langkah tegas dengan mengusir seluruh diplomat Israel dari negaranya. Presiden Gustavo Petro menyatakan bahwa tindakan Israel adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang tidak bisa ditoleransi. Reaksi serupa datang dari berbagai negara Amerika Latin lainnya. Masyarakat dunia sudah muak dengan kesewenang-wenangan Israel yang terus berlangsung tanpa ada tindakan konkret dari komunitas internasional untuk menghentikannya.
Yang paling menarik perhatian adalah gelombang protes Gen Z di Maroko yang berlangsung berhari-hari. Dipimpin oleh kelompok GenZ 212, mereka tidak hanya memprotes pencegatan flotilla, tetapi juga menuntut pemerintah Maroko mengambil sikap lebih tegas terhadap Israel. Aksi yang diorganisir melalui platform Discord ini berhasil menggerakkan massa di 10 kota besar Maroko, dari Rabat, Casablanca, hingga Tangier. Lebih dari 400 orang ditangkap dan hampir 300 terluka dalam demonstrasi yang berlangsung selama delapan hari berturut-turut. Namun semangat mereka tidak surut. Gen Z Maroko menunjukkan bahwa generasi muda Muslim tidak akan tinggal diam melihat saudara-saudara mereka di Palestina terus menderita.
Membaca Pesan di Balik Pencegatan
Respons cepat dan masif dari Gen Z Maroko patut mendapat apresiasi tinggi. Di era di mana banyak pemuda terjebak dalam hedonisme dan individualisme, generasi muda Maroko menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama Muslim masih menyala dalam dada mereka. Mereka tidak hanya berdemonstrasi sesaat, tetapi konsisten turun ke jalan selama berhari-hari, menghadapi risiko penangkapan dan kekerasan aparat.
Fenomena ini menunjukkan kebangkitan kesadaran politik di kalangan generasi muda Muslim. Mereka tidak lagi mau menjadi penonton pasif terhadap penderitaan saudara-saudara mereka di Palestina. Platform digital seperti Discord yang mereka gunakan untuk mengorganisir aksi menunjukkan adaptasi cerdas terhadap teknologi modern untuk perjuangan yang mulia.
Kepedulian ini juga merefleksikan ikatan ukhuwah Islamiyah yang melampaui batas-batas negara. Meskipun terpisah ribuan kilometer, Gen Z Maroko merasakan sakit yang dialami rakyat Gaza. Ini adalah manifestasi nyata dari hadits Rasulullah SAW tentang umat Islam yang bagaikan satu tubuh, jika satu anggota sakit, seluruh tubuh merasakan sakitnya.
Pencegatan Global Sumud Flotilla sekali lagi membuktikan karakter sejati rezim Zionis Israel. Armada yang membawa misi kemanusiaan murni, tanpa senjata, tanpa ancaman militer, tetap dicegat dengan kekuatan militer penuh. Pasukan Israel naik ke kapal-kapal dengan senjata lengkap, seolah menghadapi armada perang, padahal yang mereka hadapi adalah aktivis kemanusiaan yang tidak bersenjata.
Tindakan ini menunjukkan bahwa Israel tidak mengenal bahasa perdamaian. Setiap upaya damai, setiap inisiatif kemanusiaan, setiap gesture of goodwill dari komunitas internasional selalu dibalas dengan kekerasan dan arogansi. Mereka hanya mengerti bahasa kekuatan dan perang. Diplomasi, negosiasi, dan pendekatan damai telah terbukti gagal total menghadapi mentalitas kolonialis-apartheid Israel.
Lebih dari 400 aktivis ditahan, termasuk Greta Thunberg, aktivis lingkungan terkenal dunia. Ini menunjukkan bahwa Israel tidak peduli dengan opini publik internasional. Mereka merasa kebal hukum internasional karena perlindungan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Pencegatan di perairan internasional ini adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum maritim internasional, namun Israel tahu tidak akan ada konsekuensi serius yang mereka hadapi.
Perspektif Islam tentang Pembebasan Palestina
1.Kegagalan Solusi Two State.
Setelah puluhan tahun dipromosikan, solusi dua negara (two state solution) telah terbukti sebagai ilusi yang menipu. Sejak Oslo Accord 1993 hingga hari ini, apa yang terjadi? Israel terus mencaplok tanah Palestina melalui pembangunan pemukiman ilegal. Gaza tetap terkepung dalam blokade brutal. Yerusalem Timur terus di-Yahudi-kan. Masjid Al-Aqsa terus terancam.
Dalam perspektif Islam, solusi dua negara adalah haram karena beberapa alasan fundamental. Pertama, ia mengakui legitimasi pendudukan Israel atas tanah-tanah Palestina yang telah mereka rampas sejak 1948. Ini sama saja dengan melegitimasi pencurian dan perampasan. Kedua, solusi ini membagi-bagi tanah wakaf umat Islam yang statusnya tidak boleh diperjualbelikan atau diserahkan kepada non-Muslim. Palestina, khususnya Baitul Maqdis dan sekitarnya, adalah tanah yang diberkahi Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran. Ketiga, solusi dua negara mengabaikan hak jutaan pengungsi Palestina untuk kembali ke tanah mereka. Mereka dipaksa menerima kenyataan pahit bahwa tanah leluhur mereka kini menjadi "milik sah" Israel. Ini adalah ketidakadilan yang tidak bisa diterima dalam perspektif Islam maupun kemanusiaan universal.
2.Jihad: Kewajiban yang Terabaikan
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa Israel hanya mundur ketika menghadapi perlawanan. Penarikan Israel dari Gaza pada tahun 2005 bukan karena negosiasi damai, tetapi karena biaya okupasi yang terlalu tinggi akibat perlawanan rakyat Palestina. Penarikan Israel dari Lebanon Selatan tahun 2000 juga karena perlawanan Hizbullah yang membuat okupasi menjadi terlalu mahal.
Jihad untuk membebaskan Palestina adalah fardhu kifayah bagi umat Islam. Namun ketika tanah Islam diduduki dan rakyatnya ditindas, jihad menjadi fardhu 'ain bagi Muslim yang mampu. Jihad di sini bukan terorisme seperti yang dipropagandakan media Barat, tetapi perlawanan legitimate terhadap penjajahan dan okupasi, sesuai dengan hukum internasional yang mengakui hak bangsa terjajah untuk melawan.
Sayangnya, mayoritas penguasa negeri-negeri Muslim hari ini telah mengkhianati kewajiban jihad ini. Mereka lebih memilih normalisasi dengan Israel demi kepentingan ekonomi dan politik jangka pendek. Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan telah menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords. Arab Saudi pun dilaporkan sedang dalam proses menuju normalisasi. Pengkhianatan ini membuat Israel semakin berani dalam penindasan terhadap rakyat Palestina.
3) Khilafah: Solusi Sistemik dan Menyeluruh
Akar masalah Palestina adalah fragmentasi umat Islam dalam negara-bangsa (nation-state) yang saling terkotak-kotak. Sistem ini membuat umat Islam yang berjumlah 1,9 miliar jiwa tidak memiliki kekuatan politik terpadu untuk membela Palestina. Setiap negara Muslim sibuk dengan kepentingan nasionalnya masing-masing, melupakan kewajiban terhadap saudara seiman mereka.
Khilafah Islamiyah adalah solusi sistemik yang ditawarkan Islam. Khilafah akan menyatukan seluruh negeri Muslim dalam satu kepemimpinan politik yang kuat. Dengan unity of command ini, kekuatan 57 negara Muslim yang kini tercerai-berai akan menjadi satu kekuatan super yang tidak bisa diabaikan dunia.
Dalam sejarah, Khilafah telah terbukti mampu melindungi Palestina dan Baitul Maqdis selama lebih dari 1300 tahun. Sejak Khalifah Umar bin Khattab membebaskan Yerusalem tahun 637 M hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyah 1924, Palestina aman dalam naungan Khilafah. Bahkan ketika Tentara Salib menduduki Yerusalem (1099-1187), Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskannya kembali.
Khilafah juga akan menghentikan ketergantungan negeri-negeri Muslim pada Barat. Sumber daya alam Muslim yang melimpah - minyak, gas, mineral - tidak lagi akan mengalir murah ke negara-negara yang mendukung Israel. Khilafah akan menggunakan sumber daya ini sebagai senjata ekonomi untuk menekan negara-negara yang mendukung kolonialisme Israel.
Pembentukan Khilafah bukan utopia, tetapi keniscayaan sejarah yang sedang berproses. Kebangkitan kesadaran Islam di kalangan umat, termasuk Gen Z Muslim seperti di Maroko, adalah tanda-tanda ke arah sana. Namun diperlukan langkah-langkah konkret: Pertama, pembinaan intensif pemikiran Islam yang shahih di tengah umat, khususnya generasi muda. Mereka harus memahami bahwa Islam bukan hanya ritual ibadah, tetapi sistem hidup komprehensif yang memiliki solusi untuk semua masalah, termasuk masalah Palestina. Kedua, membangun opini umum yang kuat tentang wajibnya Khilafah dan haramnya sistem sekular-nasionalis yang memecah belah umat. Media sosial dan platform digital bisa dimanfaatkan maksimal untuk edukasi dan mobilisasi, seperti yang dilakukan Gen Z Maroko. Ketiga, menuntut penguasa Muslim untuk memutus semua hubungan dengan Israel dan negara-negara pendukungnya. Normalisasi adalah pengkhianatan yang tidak bisa ditoleransi. Umat harus terus menekan penguasa mereka melalui berbagai cara yang mungkin.
Panggilan untuk Generasi Muda Muslim
Pencegatan Global Sumud Flotilla dan respons Gen Z Maroko mengajarkan kita pelajaran penting: perjuangan membebaskan Palestina masih panjang, tetapi api perlawanan tidak akan pernah padam. Generasi muda Muslim memiliki tanggung jawab sejarah untuk melanjutkan perjuangan ini dengan pemahaman yang benar dan strategi yang tepat.
Solusi two state adalah jebakan yang harus ditolak. Jihad adalah kewajiban yang harus ditunaikan. Khilafah adalah cita-cita yang harus diperjuangkan. Ini bukan ekstremisme, tetapi solusi Islam yang moderat, adil, dan bermartabat untuk masalah yang telah berlarut-larut lebih dari 76 tahun.
Kepada Gen Z Muslim di seluruh dunia: kalian adalah harapan umat. Jangan biarkan api kepedulian terhadap Palestina padam dalam dada kalian. Teruslah berjuang dengan ilmu, hikmah, dan keteguhan. Palestina akan merdeka, Baitul Maqdis akan kembali, dan bendera Islam akan berkibar di atas tanah yang diberkahi itu. Bukan dengan solusi-solusi tambal sulam yang ditawarkan Barat, tetapi dengan kembali pada solusi Islam yang hakiki.
"Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak." (QS. Ibrahim: 42). Wallahu a’lam bisshawab