| 9 Views

Garis Merah di Langit Islamabad: Pakistan Bombardir Fasilitas Militer di Kandahar Setelah Serangan Drone dari Afghanistan

CendekiaPos - ISLAMABAD/KANDAHAR — Malam di Pakistan mendadak tak seperti biasa ketika radar menangkap benda-benda kecil bergerak di langit: drone. Sebagian disebut “buatan lokal” dan “sederhana”, namun cukup untuk membuat ruang udara di sekitar ibu kota ditutup sementara. Lalu pagi menjelang siang, nada Islamabad berubah dari waspada menjadi murka. Presiden Pakistan Asif Ali Zardari menyatakan Afghanistan telah “melampaui garis merah” karena berupaya menyerang warga sipil. Tak lama, balasan pun datang: serangan Pakistan ke fasilitas militer di Kandahar, Afghanistan.

Di jalan-jalan beberapa kota—Quetta, Kohat, Rawalpindi—yang tertinggal bukan hanya kekhawatiran, tetapi juga serpihan. Pakistan menyebut drone berhasil dicegat sebelum mencapai target, tetapi puing yang jatuh melukai warga, termasuk anak-anak.

Serangan balik ke Kandahar: “Dipakai meluncurkan drone”

Menurut keterangan pihak Pakistan yang dikutip Al Jazeera, target serangan balasan adalah fasilitas di Kandahar yang diklaim digunakan untuk meluncurkan serangan drone serta menjadi basis aktivitas pemberontak lintas batas.

Peristiwa ini disebut sebagai eskalasi tunggal paling tajam sejak konflik meningkat akhir Februari, ketika Pakistan meluncurkan operasi militer melawan pihak yang mereka sebut sebagai militan Pakistan Taliban yang berlindung di wilayah Afghanistan. Pakistan juga menuduh Kabul menampung pejuang ISIL-K (ISIS Khorasan), tuduhan yang dibantah pemerintah Taliban.

Kabul menuduh: serangan Pakistan menewaskan warga sipil

Dari sisi Afghanistan, pemerintah Taliban menuding serangan Pakistan sebelumnya mengenai wilayah permukiman dan menewaskan warga sipil. AP melaporkan Afghanistan menyebut serangan Pakistan membunuh enam warga sipil dan melukai 15 orang, sementara Pakistan membantah menargetkan warga sipil dan menyatakan operasi diarahkan ke fasilitas terkait militan.

Al Jazeera juga menuliskan bahwa sebelumnya Pakistan telah melakukan serangan ke Kabul dan provinsi timur Afghanistan, dan di Pul-e-Charkhi, Kabul, seorang warga menggambarkan momen rumahnya hancur—ia merasa sedang menghembuskan “napas terakhir” sebelum ditolong tetangga.

UNAMA: korban sipil terus bertambah, pengungsian membesar

Di tengah saling tuding, angka korban sipil terus naik. UNAMA menyatakan sedikitnya 75 warga sipil tewas dan 193 terluka sejak kekerasan meningkat pada 26 Februari—termasuk anak-anak.

Bersamaan dengan itu, badan pengungsi PBB mencatat sekitar 115.000 orang telah dipaksa meninggalkan rumah.

Di level lapangan, cerita ketegangan itu terasa nyata: orang-orang dilaporkan panik, sebagian menutup toko lebih cepat, dan keluarga-keluarga mempertimbangkan untuk menjauh dari titik yang mereka anggap rawan.

Dimensi regional: seruan dialog saat jet sudah mengudara

Konflik Pakistan–Afghanistan ini juga pecah di tengah kawasan yang sedang panas oleh perang lain: Al Jazeera mencatat eskalasi terjadi ketika wilayah lebih luas masih terguncang oleh perang AS–Israel dengan Iran.

Upaya meredakan konflik pun muncul. China, melalui Menlu Wang Yi, menyerukan dialog dan memperingatkan penggunaan kekuatan hanya akan memperdalam krisis—namun seruan itu datang ketika pesawat Pakistan disebut sudah berada di udara.

Kenapa ini berbahaya: drone “murah” bisa memicu perang mahal

Bagian paling mengkhawatirkan dari eskalasi ini justru terletak pada ironi modern: alat yang relatif murah—drone sederhana—bisa memancing respons perang yang mahal, cepat, dan sulit dikendalikan. Ketika “garis merah” sudah disebut di depan publik, ruang untuk mundur semakin sempit. Dan ketika korban sipil bertambah, amarah publik ikut menjadi bahan bakar.

Di ujung hari, dua negara bertetangga itu kembali berada pada pola yang terus berulang: serangan, bantahan, klaim balasan—sementara warga biasa menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya, bahkan ketika drone sudah jatuh dan peluru berhenti berbunyi.


Share this article via

2 Shares

0 Comment