| 12 Views

Britania Raya yang Kini Sudah Gak Keren Lagi!

Oleh : R. Irawan Chandra

Samudera kadang menyimpan tragedi yang tak terlihat di peta. Di atas air yang tampak tenang, keputusan politik bisa berubah menjadi drama harga diri. Dan itulah yang terasa ketika Inggris—Britania, negeri yang dulu meneriakkan “Rule, Britannia!” seolah lautan adalah halaman rumahnya—mendadak memilih “mutung”: memutar balik kapal induk kebanggaannya, HMS Prince of Wales.

Bukan badai yang memaksanya mundur. Bukan pula torpedo lawan. Yang membuat London menarik diri dari perairan panas Timur Tengah justru sesuatu yang tampak sepele, tetapi memukul telak: ejekan dari seberang Atlantik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan gaya bicara yang lebih mirip pengelola kasino ketimbang diplomat, cukup melontarkan sindiran untuk membuat situasi berubah. Ia hanya perlu menyentil Perdana Menteri Keir Starmer, dan mendadak arah angin di Downing Street ikut berputar.

London sempat berniat menunjukkan taring di Teluk Persia. Namun niat itu layu sebelum berkembang. Trump menyebut Inggris hanya mencoba “bergabung dalam perang yang sudah dimenangkan.” Kalimat itu—sinis, dingin, dan memalukan—rupanya menghunjam tepat di ulu hati elite politik Inggris. Nyelekit, memang.

“Ngambek” yang menyimpan paradoks

Tetapi di balik “ngambeknya” London, ada paradoks yang lebih dalam. Inggris menarik kapal induk seolah ingin menunjukkan martabat: bahwa mereka tidak bisa dipermainkan. Namun pada saat yang sama, angkatan laut mereka sendiri sebenarnya sedang terengah-engah.

Bayangkan ironi ini: ada kapal perang lain yang bahkan tidak bisa berlayar untuk membela Siprus—bukan karena disergap musuh, melainkan karena buruh galangan kapal menolak lembur. Di titik ini, kemegahan militer bertemu realitas yang pahit: sebuah imperium yang dahulu tak membiarkan matahari terbenam di wilayahnya, kini bisa tersandera oleh daftar jam kerja serikat buruh dan cuitan presiden di media sosial.

Ini ironi yang memilukan—dan membuat penarikan kapal induk terlihat bukan sekadar keputusan taktis, tetapi juga isyarat rapuhnya kemampuan.

Cadangan gas kurang dari dua hari, tapi tetap memilih “sakit hati”

Kerentanan Inggris tidak hanya ada pada soal militer. Ia juga ada pada energi—pada hal paling sederhana yang dibutuhkan rakyatnya untuk hidup normal: memasak air dan menyalakan pemanas.

Inggris disebut berada pada posisi sangat rentan karena cadangan gas mereka kurang dari dua hari. Untuk kebutuhan domestik, Inggris bergantung pada LNG dari Amerika Serikat—negara yang baru saja mempermalukan mereka sebagai “mitra junior” yang tidak penting.

Di sinilah tragedi geopolitik terasa paling tajam: negara yang bergantung, justru tersinggung pada pihak yang menjadi sandaran.

Secara etis dan strategis, Inggris seolah melakukan perjudian berisiko. Mereka menarik diri dari pengamanan Selat Hormuz di tengah ancaman Iran yang makin beringas—namun pemicunya bukan kalkulasi keamanan, melainkan rasa sakit hati.

Mereka mencoba menunjukkan kemandirian dengan cara “mogok kerja”, padahal seluruh sistem pertahanan dan energi mereka sedang berada di ujung tanduk ketergantungan.

Krisis identitas kekuatan maritim

Jika dilihat lebih jauh, ini seperti krisis identitas yang akut. Inggris mungkin tampak marah kepada Trump—tetapi sebenarnya mereka sedang marah pada kenyataan yang lebih sulit diterima: bahwa mereka memang sudah tidak relevan.

Penarikan HMS Prince of Wales dalam narasi ini bukan tindakan kedaulatan, melainkan pelarian dari tanggung jawab yang sebenarnya sudah tak sanggup mereka pikul. Inggris sedang berusaha mempertahankan sisa kehormatan dengan cara merajuk. Namun semakin mereka merajuk, semakin jelas bagi dunia betapa rapuhnya mesin perang dan mentalitas bangsa itu hari ini.

Dan pada titik itu, muncul kesimpulan yang pahit: kehormatan yang hanya bertumpu pada harga diri elit yang terluka, sementara rakyatnya bisa kedinginan karena krisis energi—bukanlah kedaulatan. Itu hanya kepalsuan geopolitik.

Suka atau tidak, Trump benar dalam satu hal—meski caranya kasar: Inggris memang tidak sedang memenangkan perang apa pun. Mereka bahkan sedang kalah melawan rasa malu mereka sendiri.


Share this article via

7 Shares

0 Comment