| 9 Views

Almeyda Menohok Jelang Barcelona vs Sevilla: “Dunia Perang, Kita Masih Bahas Formasi—Ini Sisi Menyedihkan”

CendekiaPos - SEVILLA — Di ruang konferensi pers yang biasanya dipenuhi kalimat-kalimat taktik, cedera pemain, dan strategi bertahan, pelatih Sevilla Matías Almeyda memilih membuka pintu dengan nada yang berbeda: bukan tentang sepak bola, tapi tentang dunia.

Jelang laga Sevilla melawan Barcelona, Almeyda menyampaikan pernyataan yang langsung mengubah suasana. Ia menyorot kontras yang terasa makin tajam belakangan ini—ketika perang menjadi headline, namun kalender pertandingan tetap berjalan seperti biasa.

“Dunia sedang dilanda perang dan kita malah membicarakan tentang memainkan sebuah pertandingan, itu artinya kita tidak peduli pada apa pun. Itulah sisi menyedihkan dari hal ini; bisnis harus terus berjalan.”

Kalimat itu bukan sekadar keluhan. Ia terdengar seperti renungan yang meledak di tengah rutinitas industri sepak bola.

“Saya memeras otak soal susunan tim… saat perang terjadi”

Almeyda mengakui realitas yang ia jalani sebagai pelatih: di saat dunia bergejolak, ia tetap dituntut profesional—mempersiapkan tim, menyusun strategi, dan mengejar hasil.

Namun justru di situlah letak kegelisahannya. Ia menyebut ada sisi yang nyaris “tidak manusiawi” ketika seseorang dipaksa berganti mode terlalu cepat: dari tragedi kemanusiaan ke urusan yang sangat teknis.

“Di saat ada perang, sementara saya sedang memeras otak memikirkan bagaimana susunan tim untuk bermain dan mematahkan kutukan 23 tahun ini… Kita beralih dari sesuatu yang sangat indah ke sesuatu yang praktis hampir tidak manusiawi.”

“Kutukan 23 tahun” yang dimaksud Almeyda adalah catatan panjang Sevilla yang tak kunjung menang di Camp Nou. Klub Andalusia itu terakhir kali menang di markas Barcelona pada 2002. Dan jelang laga besar seperti ini, Almeyda seharusnya berbicara soal pressing, transisi, atau duel lini tengah. Tetapi ia justru memilih berbicara tentang harga roket dan lapar.

Roket €50 juta vs kelaparan Afrika: “Mengapa tidak jadi beras dan pendidikan?”

Di bagian paling tajam, Almeyda membuat perbandingan yang menggigit logika moral dunia modern. Ia menyebut nilai ekonomi di balik perang—dan bertanya mengapa dana sebesar itu tidak dialihkan untuk kemanusiaan.

“Jika setiap roket yang ditembakkan bernilai €50 juta dan kemudian kita mengetahui bahwa di Afrika ada kelaparan, mengapa tidak daripada menembakkan roket-roket itu, kita membawa €50 juta tersebut dalam bentuk beras dan pendidikan?”

Pertanyaannya sederhana, tapi menyentil: kalau manusia sanggup menggelontorkan uang untuk menghancurkan, mengapa sulit mengeluarkan uang untuk menyelamatkan?

Almeyda menutup dengan satu diagnosis yang pahit:

“Kita hidup di dunia yang hanya mementingkan diri sendiri.”

Sepak bola di tengah dunia yang retak

Pernyataan Almeyda mengingatkan bahwa sepak bola—betapapun indahnya—tetap berada di dalam dunia yang sama: dunia yang penuh konflik, ketimpangan, dan luka-luka kemanusiaan.

Laga Sevilla vs Barcelona tetap akan dimainkan. Stadion tetap ramai. Kamera tetap merekam. Analisis tetap mengalir. Tetapi di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang ditinggalkan Almeyda di meja konferensi pers:

Apakah kita masih punya ruang untuk peduli, saat “bisnis harus terus berjalan”?


Share this article via

4 Shares

0 Comment